Keracunan Nasi Bungkus, 1 Atlet Futsal Meninggal dan 31 Dirawat di Jembrana Bali

Sudika ยท Sabtu, 20 Juli 2019 - 09:36 WIB
Keracunan Nasi Bungkus, 1 Atlet Futsal Meninggal dan 31 Dirawat di Jembrana Bali

Salah satu pasien korban dugaan keracuanan di Jembrana Bali yang mendapat penanganan medis. (Foto: iNews/Sudika)

JEMBRANA, iNews.id – Keracunan massal diduga dialami puluhan atlet dan ofisial tim fustal Desa Mendoyo Dauh Tukad saat mengikuti Pekan olahraga Kecamatan Mendoyo di Jembrana, Bali. Dalam kejadian ini, satu orang meninggal dunia dan 31 lainnya mendapat perawatan intensif.

Informasi yang dirangkum iNews, kronologi peristiwa ini berawal saat para atlet menyantap nasi bungkus seusai laga final pada Selasa (16/7/2019). Tak ada gekala apapun ketika itu. Namun sehari setelahnya, korban Ni Putu Suardani Asih mengeluhkan sakit perut pada Rabu (17/7/ 2019). Bukan hanya dirinya, namun hampir semua yang ikut makan dalam pertandingan mengeluhkan hal serupa. Setelah menjalani perawatan, almarhum mengembuskan napas terakhir pada Kamis (18/7/2019) malam.

“Kakak saya awalnya mengeluh sakit perut sehari setelah pertandingan final. Kemudian pusing dan mual serta diare. Keesokannya meninggal,” ujar adik almarhum, Ni Ketut Ari Tini, Jumat (19/7/2019).

BACA JUGA: Puluhan Warga di Ponorogo Keracunan usai Santap Gulai Ayam

Pihak keluarga tak menyangka dengan peristiwa tersebut. Dalam suasana kedukaan, keluarga dan kerabat dari warga Banjar Ngoneng, Desa Menoyo Dauh Tukad, Kecamatan Mendoyo, Jembrana, Bali, kini sedang dalam persiapan pengabenan korban.

Data Dinas Kesehatan, setidaknya ada 32 korban dugaan keracunan makanan tersebut. Rinciannya, satu meninggal dunia, 11 rawat inap dan 20 rawat jalan. Mereka menjalani perawatan di rumah sakit maupun puskesmas.

Salah satu korban dugaan keracunan nasi bungkus lainnya yakni Gusti Ayu Komang Biantari (46), sekretaris Desa Mendoyo Dauh Tukad. Dia mengaku sudah mengalami sakit perut sejak dua hari terakhir. Tidak hanya itu, anaknya yang ikut mengkonsumsi makanan tersebut juga ikut mengeluh sakit.


Editor : Donald Karouw