Lepas Ekspor 2,5 Ton Mangga Bali ke Rusia, Mentan: Tahun Ini Kita Target 100 Ton

Bona Jaya ยท Kamis, 08 Agustus 2019 - 02:02 WIB
Lepas Ekspor 2,5 Ton Mangga Bali ke Rusia, Mentan: Tahun Ini Kita Target 100 Ton

Mentan Amran Sulaiman menunjukkan buah mangga harum manis asal Bali yang diekspor ke Rusia. (Foto: iNews.id/Bona Jaya)

BADUNG, iNews.id - Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman melepas ekspor perdana 2,5 ton komoditas mangga harum manis dari Bali ke Rusia dan sejumlah produk lain ke beberapa negara.

Mentan menargetkan mampu mengekspor 100 ton buah mangga  sebagai komoditas unggulan asal Bali untuk memenuhi pasar Rusia di tahun 2019.

Selain mangga, ekspor pertanian ke Negara Beruang Merah baru mencapai 368.400 ton dengan komoditas yang diekspor antara lain air kelapa, bambu, salak, dan kacang tanah.

“Alhamdulillah, hari ini kita ekspor perdana manga tembus ke Rusia. Ini bukan pekerjaan ringan, kami mengapresiasi semua jajaran mulai Balai Karantian hingga teman-teman di Pertanian,” kata Amran saat melepas ekspor perdana 2,5 ton komoditas mangga harum manis di area kargo logistik Angkasa Pura I Tuban, Kuta, Kabupaten Badung, Bali, Rabu (7/8/2019).

BACA JUGA: Menteri Pertanian Bertemu Presiden Argentina, Sepakati Ekspor Buah-buahan

Amran menuturkan, mangga jenis harum manis asal Bali sangat diminati warga Rusia dan harganya sangat tinggi. “Harga (manga) di Rusia, sampai Rp500.000 per tiga biji. Berarti satu biji itu harganya Rp160.000an,” ucapnya.

Menurut Amran, volume ekspor pertanian dari tahun ke tahun terus meningkat. Hal ini tidak lepas dari berbagai inovasi, kemudahan dan percepatan layanan karantina di pelabuhan dan bandara.  

“Elektronifikasi sertifikat dan aplikasi petaan komoditas pertanian ekspor telah memudahkan eksportir dalam melakukan ekspor. Tahu 2019 ini, volume ekspor ditargetkan meningkat hingga 45 juta ton melalui penggunaan teknologi informasi,” ujarnya.

Dia mengatakan, Kementerian Pertanian akan terus memaksimalkan dan mendorong pemanfaatan teknologi informasi pada proses bisnis karantina antara lain pertukaran data persyaratan ekspor dan sertifikat elektronik atau e-Cert ke Belanda.

Badan Karantina Pertanian juga diminta melakukan harmonisasi dan negosiasi dengan seluruh negara mitra dagang agar dapat menggunakan fasilitas layanan ini. “Saat ini baru empat negara yang terfasilitasi layanan tersebut yakni, Selandia Baru, Australia, Belanda, dan Vietnam,” katanya.


Editor : Kastolani Marzuki