Rentetan Gempa di Bali Bikin Resah, BPBD Ajak Masyarakat Tingkatkan Kewaspadaan

Antara ยท Kamis, 25 Juli 2019 - 08:41 WIB
Rentetan Gempa di Bali Bikin Resah, BPBD Ajak Masyarakat Tingkatkan Kewaspadaan

Ilustrasi gempa bumi. (Foto: Okezone)

DENPASAR, iNews.id – Rentetan gempa di selatan Bali pada Rabu (24/7/2019) membuat masyarakat resah dan khawatir. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali mengajak masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan setelah terjadinya tiga gempa bumi dalam sehari di selatan Pulau Dewata itu.

“Marilah kita bersama meningkatkan kewaspadaan, tetapi kita tidak perlu resah dan khawatir. Tingkah laku gempa masih sulit dikenali polanya, selain itu aktivitas gempa bumi belum dapat diprediksi kapan, di mana, dan berapa kekuatannya,” kata Kepala Pelaksana BPBD Bali I Made Rentin, di Denpasar, Kamis (25/7/2019).

Rentin tidak memungkiri hingga Rabu (24/7/2019) malam, warga Bali bahkan hingga Banyuwangi, Jawa Timur, masih melontarkan pertanyaan terkait rentetan gempa di selatan Bali ini apakah merupakan tipe gempa pembuka.

“Sangat sulit untuk menentukan sebuah gempa disebut sebagai gempa pembuka atau bukan. Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Dr Daryono juga mengingatkan kita semua untuk tidak perlu resah dan khawatir, tetapi meningkatkan kewaspadaan,” ucapnya.

BACA JUGA:

Gempa Bumi M 4,9 Guncang Jembrana Bali, Terasa di Kuta, Denpasar hingga Jember

Jembrana 2 Kali Diguncang Gempa, Ini Penjelasan BMKG

Menurut Rentin, ini sama halnya saat menjawab potensi gempa megathrust di pesisir selatan Jawa. Informasi tentang gempa bertujuan untuk membenahi upaya mitigasi, bukan direspons dengan ketakutan dan kecemasan berlebihan.

“Sekali lagi kami mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan,” ujarnya.

BPBD juga mengajak masyarakat secara rutin dan berkelanjutan untuk mendidik dan melatih diri dengan melakukan simulasi setiap tanggal 26 tiap bulan. Hal ini telah menjadi komitmen Pemerintah Provinsi Bali pascapenetapan Hari Simulasi Bencana setiap tanggal 26.

“Karena itu, mari secara bersama kita melatih diri dan menyiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan bencana karena kita tahu dan paham bahwa Pulau Bali berada pada ring of fire,” kata Rentin.

Masyarakat perlu memantapkan upaya mitigasi bencana. Misalnya, melakukan upaya paling sederhana mulai dari rumah masing-masing dengan mengecek kekuatan infrastruktur rumah, gedung perkantoran, hotel, pusat perbelanjaan dan gedung lainnya.

“Intinya dengan melakukan pengecekan, kita bisa melakukan langkah antisipasi,” katanya.

Diketahui, Bali diguncang gempa bumi pada Rabu (24/7/2019) sebanyak tiga kali. Pertama terjadi pada pukul 09.29 Wita dengan Magnitudo 4,9 pada kedalaman 71 kilometer. Gempa kedua terjadi pukul 18.53 Wita dengan kekuatan M 4,1 pada kedalaman 66 kilometer (km).

Sementara pada pukul 21.17 Wita, gempa kembali terjadi di Samudera Hindia selatan Bali. Gempa ketiga ini berada di zona megathrust selatan Bali. Hasil analisis BMKG menunjukkan gempa berkekuatan M 5,2. Episenter gempa terletak pada koordinat 10,57 LS dan 115,00 BT, tepatnya di Samudra Hindia pada jarak 198 km arah barat daya Nusa Dua dengan kedalaman 10 km.

Berdasarkan lokasi episenter dan kedalamannya, gempa ini merupakan jenis tektonik dangkal di zona megathrust yang relatif dekat dengan front subduction.


Editor : Maria Christina