Warga Bawa Pretima Sakral saat Sidang Lahan Adat, Petugas PN Gianyar Kebingungan

Nyoman Astana ยท Kamis, 01 Agustus 2019 - 14:49 WIB
Warga Bawa Pretima Sakral saat Sidang Lahan Adat, Petugas PN Gianyar Kebingungan

Warga membawa iringan pretima dari Pura Puseh Banjar Pakudui Kangin Desa Kedisan, Tegallalalng ke PN Gianyar Bali, menjelang sidang sengketa tanah laba pura, Kamis (1/8/2019). (Foto: iNews/Nyoman Astana)

GIANYAR, iNews.id – Pemandangan unik terlihat menjelang sidang teguran atau aanmaning terkait eksekusi sengketa lahan adat, laba pura di Pengadilan Negeri (PN) Gianyar, Kamis (1/8/2019). Warga membawa pretima pura atau arca sakral dengan iringan gambelan balagenjur.

Dengan menggunakan dua truk, iringan pretima dari Pura Puseh Banjar Pakudui Kangin, Desa Kedisan, Kecamatan Tegallalang, berhenti di depan PN Gianyar. Karena parkir penuh, rombongan bergeser ke depan Toko Modern, setelah PN Gianyar.

Diiringi nyanyi puja, stana Tuhan itu ditandu menuju kantor PN Gianyar. Kedatangan warga yang membawa benda sakral ini kontan saja membuat petugas PN Gianyar kebingungan. Sebab, mereka tidak memiliki tempat khusus untuk pretima pura itu.


BACA JUGA: Penanganan Konflik di Lahan Register 45 Mesuji, Polisi Periksa 29 Saksi


Saat memasuki areal PN Gianyar, iringan ini sempat dihentikan. Petugas PN Gianyar khawatir jika kesucian pretima terganggu lantaran tidak memiliki tempat yang layak. Mereka tidak ingin umat Hindu nanti mempermasalahkan penempatannya.

Di tengah perdebatan petugas dan warga, teriakan histeris pegawai Toko Modern yang kesurupan pun membuat suasana semakin tegang. Pertugas akhirnya memperbolehkan pretima dibawa masuk ke areal pengadilan dan mengambil posisi di depan padma kantor setempat.

Pemangku Pura Puseh Pakudui Kangin menyebutkan, keputusan krama untuk menyertakan pretima ini karena objek yang disengketakan lahan pura. Pihaknya tidak ingin pelaksanaan eksekusi nantinya berimbas pada pelaksanaan upacara di desanya. Apalagi lahan yang akan dieksekusi merupakan kawasan suci. Di sanaj juga ada kuburan dan fasilitas adat lainnya.

“Masyarakat sudah kebingungan ini terkait masalah kebenaran karena laba pura mau dieksekusi. Para warga sudah keberatan, makanya sampai menurunkan pretima ke PN Gianyar,” kata Pemangku Pura Puseh Pakudui Kangin, Jero Mangku Wayan Jana.

Sementara Humas PN Gianyar Wawan Edi Prastiyo menyayangkan warga yang membawa benda sakral dan suci dalam persidangan. Apalagi, penempatan benda suci tidak boleh sembarangan. Jika tidak, umat beragama akan mempermasalahkan nanti.

“Ini soal patut tidaknya sebagai umat beragama karena membawa benda-benda yang kita sucikan untuk berperkara. Instansi mana pun saya kira tidak memiliki tempat khusus untuk menaruh benda-benda sakral, yang disucikan itu. Jangan sampai kalau ada apa-apa nanti, kami pengadilan yang dipermasalahkan,“ kata Wawan Edi Prastiyo.

Sementara dari hasil sidang aanmaning, majelis hakim memberikan waktu delapan hari kepada termohon dan pemohon eksekusi untuk bernegosiasi. Perkara sengketa tanah laba pura ini melibatkan pemohon I Ketut Karma Wijaya dan lain-lain selaku prajuru adat Desa Pakraman Pakudui. Sementara Termohon I Wayan Sama dan lain-lain, selaku prajuru adat Pakudui Kangin atau Desa Pakraman Persiapan Puseh Pakudui.


Editor : Maria Christina