Warga Desa Bukit Karangasem Rayakan Maulid Nabi di Tenda Darurat

Yunda Ariesta ยท Selasa, 20 November 2018 - 15:17 WIB
Warga Desa Bukit Karangasem Rayakan Maulid Nabi di Tenda Darurat

Umat Islam di Dusun Tribulaka Sasak, di Karangasem, Bali, membawa berbagai hasil bumi sebagai ucapan syukur pada perayaan Maulid Nabi, Selasa (20/11/2018). (Foto: iNews/Yunda Ariesta)

KARANGASEM, iNews.id – Ratusan warga Dusun Tribulaka Sasak, Desa Bukit, Kabupaten Karangasem, Bali, terpaksa merayakan peringatan Maulid Nabi di tenda darurat, Selasa (20/11/2018). Pasalnya, Masjid Nurul Mubin, yang biasa mereka gunakan masih rata dengan tanah pascagempa bumi 7 Skala Richter (SR) yang mengguncang Lombo, Nusa Tenggara Barat (NTB) beberapa waktu lalu.

Dari pantauan iNews, ratusan masyarakat tampak berdesakan di tenda darurat. Dengan kondisi cuaca panas, mereka melaksanakan serangkaian prosesi Maulid Nabi. Kendati dilaksanakan dalam kondisi tidak biasanya, masyarakat masih tampak antusias menggelar doa bersama dan prosesi akikahan.

Masyarakat membawa janur telur untuk proses akikahan, yang dihias dengan warna-warni meriah. Selain itu, masyarakat juga bersemangat menjujung sesaji buah yang disebut apean, untuk dipersembahkan saat doa bersama.

“Cuacanya memang sangat panas. Kasihan juga masyarakat, terutama anak-anak. Kami harus merayakan di tenda darurat sambil menunggu donatur yang berkenan membantu pembangunan masjid di desa kami,” kata Kepala Wilayah Dusun Tribulaka Sasak, Rirham. 


BACA JUGA: Rayakan Maulid Nabi, Warga Kaliwungu Gelar Tradisi Weh-Wehan


Warga Tribulaka Sasak, Zarimah mengatakan, mereka merayakan perayaan Maulid Nabi dengan kondisi memprihatinkan karena situasinya masih darurat. Warga berharap agar masjid di desa itu segera diperbaiki.

“Ya, kondisinya masih darurat karena kami harus merayakan Maulid Nabi di tenda ini. Anak-anak banyak yang mengeluh karena cuacanya panas,” ujarnya.

Di sisi lain, perayaan Maulid Nabi di Dusun Tribulaka Sasak sedikit berbeda dengan daerah lain. Tumbuh di tengah masyarakat Bali membuat lahirnya akulturasi budaya pada perayaan hari-hari besar Islam di daerah ini.

Tokoh agama Islam di Dusun Tribulaka Sasak, Erbo mengatakan, masyarakat menggunakan buah dan kue yang ditata menyerupai banten pajegan dalam tradisi umat Hindu. Hal ini sebagai bentuk syukur atas hasil bumi yang didapat. Selain itu pada prosesi akikahan atau potong rambut juga menggunakan sarana banten atau sesaji menyerupai umat Hindu.

“Ini adalah adat budaya kami, bentuk akulturasi budaya dengan saudara-saudara umat Hindu dan bentuk kerukunan umat beragama di sini. Hasil bumi ini sebagai ucapan rasa syukur umat kepada Alllah. Setelah ini nanti ada doa bersama, zikir bersama, dan akikahan,” kata pemuka agama Erbo.


Editor : Maria Christina