10 Kecamatan di Bandung Terancam Likuifaksi, Begini Tanggapan LIPI

Antara, Yogi Pasha ยท Jumat, 12 Oktober 2018 - 20:47 WIB
10 Kecamatan di Bandung Terancam Likuifaksi, Begini Tanggapan LIPI

Gempa disertai likuifaksi menerjang Petobo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. LIPI memprediksi ancaman likuifaksi tidak akan terjadi di Kota Bandung karena kontur tanahnya berbeda dengan wilayah di Sulteng. (Foto: Antara)

BANDUNG, iNews.id  - Prediksi dari Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian, dan Pengembangan (Bappelitbang) mengenai beberapa wilayah di Kota Bandung yang memiliki kerawanan terjadi likuifaksi jika terjadi gempa besar langsung direspons Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Peneliti Puslit Geoteknologi LIPI, Adrin Tohari mengatakan, tanah di Kota Bandung bagian selatan dan timur memiliki struktur tanah lempung. Sehingga, secara teori tidak akan mengalami likuifaksi.

Menurut Adrin berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Geoteknologi LIPI, struktur bawah tanah di Cekungan Bandung berupa tanah lempung dan tidak ditemukan adanya pasir hingga kedalaman 15 meter.

“Untuk bisa terjadi likuifaksi atau hilangnya kekuatan tanah sehingga tidak memiliki daya ikat, ada beberapa syarat seperti adanya pasir di bawah tanah, muka air tanah yang dangkal, dan ada sumber titik gempa di wilayah tersebut,” kata Adrin, Jumat (12/10/2018).

Namun berdasarkan penelitian LIPI bahwa struktur tanah di Cekungan Bandung berupa tanah lempung. Tanah lempung ini merupakan akumulasi dari endapan danau Bandung purba yang telah mengering jutaan tahun lalu. "Berdasarkan teori tanah lempung itu tidak akan mengalami likuifaksi. Lempungnya lempung lunak jadi tidak akan mengalami likuifaksi," kata dia.

BACA JUGA: Jika Gempa Besar, 10 Kecamatan di Bandung Bisa Likuifaksi Seperti Palu

Struktur tanah ini terjadi karena partikel-partikel halus yang tidak mengalami pemadatan akibat kondisi air yang tenang bekas danau purba, sehingga menghasilkan tanah lempung. "Gak ada endapan lain, gak terendapkan di lapisan lempung itu. Jadi lempung itu tidak mengalami pemadatan sehingga kondisi sekarang masih lunak," katanya.

Menurut Adrin, masih ada kerawanan lain yang menjadi konsekuensi dari struktur tanah lempung ini yakni getaran atau guncangan yang akan sangat terasa jika terjadi gempa.

Adrin menyebut penguatan getaran atau goncangan keras tersebut dengan istilah amplifikasi. "Yang harus diwaspadai fenomena amplifikasi atau penguatan getaran gempa. Karena kalau di tanah lunak itu getaran akan terasa kuat," kata dia.

Sebelumnya, Kepala Sub Bidang 1 Perencanaan Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah (PIPW), Bappelitbang Kota Bandung, Andry Heru Santoso menjelaskan, sejumlah titik di Kota Bandung juga memiliki potensi fenomena likuifaksi.

Berdasarkan penelitian dari Geodesy Research Group, Institute Technology Bandung dan International Decade for Natural Disaster Reduction yang bekerjasama dengan Bappeda Kota Bandung sekitar tahun 1992 sampai tahun 2000, terdapat 10 lokasi di Kota Bandung yang berpotensi likuifaksi.

Lokasi tersebut yaitu Kecamatan Kiaracondong, Antapani, Bandung Kulon, Babakan Ciparay, Bojongloa Kaler, Bojongloa Kidul, Astanaanyar, Regol, Lengkong dan Kecamatan Bandung Kidul. "Ke-10 kecamatan tersebut mungkin masih berpotensi atau tidak, nanti perlu didata dan diupdate ulang. Apakah ada penambahan atau pengurangan, itu kan baru potensi saja," katanya.


Editor : Kastolani Marzuki