Dedi Mulyadi: Oposisi Sediakan Hiburan Gratis untuk Rakyat

Asep Supiandi, Sindonews ยท Rabu, 10 Oktober 2018 - 16:45 WIB
Dedi Mulyadi: Oposisi Sediakan Hiburan Gratis untuk Rakyat

Ketua Tim Kampanye Daerah Jokowi-Ma'ruf Amin Jawa Barat, Dedi Mulyadi. (Foto: iNews.id/Yogi Pasha)

Facebook Social Media Twitter Social Media Google+ Social Media Whatsapp Social Media

PURWAKARTA, iNews.id - Ketua Tim Pemenangan Jokowi-Ma’ruf Jawa Barat, Dedi Mulyadi menyebut pihak oposisi sudah menyediakan hiburan gratis untuk rakyat. Menurutnya, hal ini berimplikasi hematnya biaya untuk varian konten kampanye berjenis hiburan.  

"Iya, kita tidak perlu menyediakan hiburan untuk masyarakat karena sudah disediakan para politisi. Apalagi, pihak oposisi dengan berbagai gimmick, selalu ramai itu di sosial media," kata Dedi, Rabu (10/10/2018).

Pernyataan Dedi itu sekaligus untuk merespons celoteh Ketua BPD Prabowo-Sandi Jabar, Abdul Haris Bobihoe. Menurut Haris, pola kampanye Dedi yang selalu menggelar panggung hiburan rakyat sudah tidak sesuai dengan zaman.

Dedi menyatakan, panggung hiburan yang sejak 15 tahun lalu yang dirintis merupakan media relaksasi rakyat. Ikhtiar ini sekaligus menjadi kritik terhadap pola beberapa kalangan yang mengedepankan kebiasaan saling sindir.

Kebiasaan itu, menurut Dedi, diamplifikasi secara sadar melalui media mainstream dan media sosial. "Sebenarnya tidak ada istilah musim atau tidak musim. Mungkin begini ya, karena mereka itu sudah merasa menguasai medsos sehingga beranggapan tidak butuh pola komunikasi langsung. Padahal, rakyat itu membutuhkan kebahagiaan dengan sentuhan langsung," ucapnya.

BACA JUGA: 

Dedi Mulyadi: Semoga Ratna Sarumpaet Setelah Bedah Plastik Bisa Cantik

Dedi Mulyadi: Jawa Barat Butuh Jokowi untuk Konektivitas Infrastruktur


Menurut Dedi, pola yang dia jalankan sudah sesuai dengan karakter dan pola Joko Widodo. Sebagai seorang pemimpin, Presiden Jokowi tidak pernah terpaku pada aturan yang bersifat formal. Sebaliknya, kisah sukses Jokowi selalu tercipta dari pola yang bersifat nonformal.

Misalnya, saat menjabat sebagai Wali Kota Solo, Jokowi memindahkan para pedagang pasar dengan cara berkali-kali menggelar acara makan siang. Tak lama setelah itu, para pedagang yang awalnya menolak pindah seketika menerima kebijakan Jokowi.

"Saya sendiri memulai itu pada 2003 lalu dan itu menjadi kenangan yang tertancap dalam benak rakyat. Peristiwanya dikenang oleh mereka seumur hidup," katanya.

Mantan Bupati Purwakarta itu berkelakar, celetukan spontan rakyat jauh lebih menyenangkan dibandingkan sikap saling sindir politisi. Celetukan tersebut menurut dia dapat dijadikan visi bagi seorang pemimpin dalam menjalankan kebijakan. "Jelas lebih bahagia mendengar celetukan rakyat daripada gimmick politisi oposisi," ujarnya berseloroh.


Editor : Himas Puspito Putra