Jika Gempa Besar, 10 Kecamatan di Bandung Bisa Likuifaksi Seperti Palu

Yogi Pasha ยท Kamis, 11 Oktober 2018 - 17:08 WIB
Jika Gempa Besar, 10 Kecamatan di Bandung Bisa Likuifaksi Seperti Palu

Kasubid 1 Bidang Perencanaan Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah Bappelitbang Kota Bandung, Andri Heru Santoso. (Foto: iNews.id/Yogi Pasha)

BANDUNG, iNews.id - Dampak gempa bumi berkekuatan 7,4 skala richter (SR) yang terjadi di Palu, Donggala, Sulawesi Tengah, bisa terjadi di Kota Bandung. Sebab, hampir 10 kecamatan di Kota Bandung berada di wilayah likuifaksi atau pergerakan tanah yang mengakibatkan bangunan di atas berpindah tempat atau ambles ke dalam tanah.

Kondisi tersebut sama seperti yang terjadi di kawasan Petobo dan Balaroa, Kota Palu, saat terjadi gempa bumi dengan kekuatan 7,4 magnitudo. 

Seperti diketahui, Likuifaksi atau pencairan tanah adalah fenomena yang terjadi ketika tanah yang jenuh atau agak jenuh kehilangan kekuatan dan kekakuan akibat adanya tegangan. Misalnya akibat getaran gempa bumi atau perubahan ketegangan lain secara mendadak, sehingga tanah yang padat berubah wujud menjadi cairan atau air berat.

Kasubid 1 Bidang Perencanaan Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah Bappelitbang Kota Bandung, Andri Heru Santoso mengatakan, para peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB) pernah melakukan kajian pada 1999-2000 di mana sekitar 10 kecamatan di Kota Bandung rawan terjadi likuifaksi. 

"Hasil kajian 1990-2000 ada beberapa kecamatan di Bandung yang rawan terjadi likuifaksi khususnya di Bandung selatan. Itu jadi semacam early warning system untuk jenis pembangunan di Bandung Selatan. Artinya harus memperhatikan struktur bangunan dan jalur evakuasi," ucap Andri usai kegiatan Bandung Menjawab di Taman Sejarah, Kota Bandung, Kamis (11/10/2018).

BACA JUGA:

Ini Kata Pakar Geologi UGM soal Fenomena Tanah Bergerak di Sigi-Palu

Pascagempa, Desa Jono Oge di Sigi Berubah jadi Ladang Jagung

Dampak Likuifaksi, 5.000 Orang Dilaporkan Hilang di Balaroa dan Petobo

 

 

 

Tak hanya di Bandung Selatan saja, menurut Andri, hampir seluruh wilayah Kota Bandung memiliki tingkat kerawanan yang sama. "Di antaranya, Bandung Kulon sampai ke Astana Anyar dan beberapa kecamatan di tengah Kota Bandung serta Bandung Timur," ucapnya. 

Dia menyebutkan, fenomena alam ini disebabkan oleh kondisi geografis Bandung yang dulunya merupakan sebuah danau purba. Pasalnya kontur tanah di Bandung lebih banyak mengandung air serta ada sejumlah daerah yang dahulu merupakan rawa.

"Dulu Bandung itu danau purba dan berada di kawasan cekungan sehingga airnya surut dan jenis tanah tertentu masuk daerah rawa seperti di Gedebage," tuturnya. 

Kondisi tanah yang banyak dipenuhi air, sambung Andri, membuat pemanfaatan air tanah semakin massif di Bandung. Menurutnya pemanfaatan air tanah yang semakin tak terkendali ditambah dengan pembangunan infrastruktur di daerah tertentu bisa menjadi penyebab likuifaksi terjadi.

"Dengan jumlah penduduk banyak artinya pengambilan air tanah di kawasan pemukiman belum ada pengendalian. Akhirnya karena sumber air baku terbatas yang paling murah adalah air tanah. Pengambilan dengan tidak terkendali itu juga mempercepat potensi likuifaksi," jelasnya. 

Meski demikian, dia mengungkapkan masyarakat tak perlu khawatir dengan adanya potensi kebencanaan likuifaksi ini. Sebab hasil kajian yang menyebutkan 10 kecamatan rawan likuifaksi perlu diperbaharui lagi.  

"Secara lebih teknis harus dibuktikan dan di-update ulang karena penelitian ini sudah lama. Intinya ini pekerjaan rumah bersama bawah pemerintah harus mengintervensi dan menyosialisasikan bagaimana mengedukasi kepada warga bila sewaktu-waktu terjadi bencana. Karena di Bandung sendiri tingkat edukasi warga masih rendah," ucapnya.


Editor : Himas Puspito Putra