JPU Tolak Pledoi Bahar Smith, Kuasa Hukum: Kasus Ini Bersifat Politis

Juhpita Meilana ยท Senin, 24 Juni 2019 - 19:30 WIB
JPU Tolak Pledoi Bahar Smith, Kuasa Hukum: Kasus Ini Bersifat Politis

Terdakwa kasus penganiayaan anak, Habib Bahar bin Smith berbincang dengan JPU Kejari Bogor dalam sidang lanjutan kasus penganiayaan anak di Aula Gedung Arsip dan Perpustakaan Kota Bandung, Jawa Barat. (Foto: iNews.id/Jupita Meilana)

BANDUNG, iNews.id - Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Bogor menolak nota pembelaan atau pledoi terdakwa kasus penganiayaan anak, Bahar bin Smith. JPU berpendapat perbuatan yang dilakukan terdakwa sudah termasuk dalam tindak pidana.

"Kami menyatakan tetap pada surat tuntutan dengan harapan majelis mempertimbangkan surat tuntutan kami," kata JPU Kristianto dalam sidang dengan agenda replik sekaligus duplik yang digelar di Aula Gedung Arsip dan Perpustakaan Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (24/6/2019). 

Menurut JPU, tuntutan selama enam tahun penjara kepada terdakwa sudah seusai dengan fakta-fakta persidangan yang ada. JPU juga telah menguraikan perbuatan-perbuatan yang dilakukan terdakwa saat menganiaya dua remaja yakni, Cahya Abdul Jabar dan Muhammad Khoerul Aumam Al Mudzaqi alias Zaki.

Karena itu, JPU tetap pada tuntutannya dan berharap majelis hakim mempertimbangkan tuntutan tersebut. “Kami tetap menuntut terdakwa selama enam tahun penjara karena apa yang dilakukan terdakwa sudah masuk pidana,” katanya.

BACA JUGA: Dituntut 6 Tahun Penjara, Habib Bahar : Saya Bertanggung Jawab Dunia Akhirat

Kuasa hukum terdakwa, Ichwan Tuan Kota berharap majelis hakim memutus hukuman ringan dan seadil-adil nya kepada kliennya. “Apa yang disampaikan JPU tadi itu kaitan pada tuntutan. Tapi, ada kelemahan tadi bahwa JPU mencabut tuduhan sundut rokok yang dilakukan terdakwa karena tidak ada bukti visum,” katanya.

Ichwan juga menengarai kasus yang menjerat kliennya bernuansa politis karena ada rangkaian sebelum terdakwa ditangkap dengan tuduhan penganiayaan anak. “Kita menduga-duga ini ada kaitan dengan kasus-kasus sebelumnya. Ini kan tahun politik ya. Sebelum perkara ini berlangsung Habib Bahar diperiksa di Mabes Polri,” katanya.

Sidang kali ini tampak sepi pengunjung dibanding siding-sidang sebelumnya. Penyebabnya, jadwal sidang diubah yang biasa digelar Kamis menjadi Senin untuk mempercepat proses sidang. Majelis Hakim Pengadilan Negeri Bandung akan kembali menggelar sidang pada 9 Juli 2019 dengan agenda vonis.

Sebelumnya, terdakwa kasus penganiayaan anak di bawah umur, Bahar bin Smith dituntut hukuman enam tahun penjara dan denda Rp50 juta subsider tiga bulan kurungan penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam sidang tuntutan yang di gelar di Aula Gedung Arsip dan Perpustakaan Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (13/6/2019).

Dalam tuntutannya, JPU Kristianto menilai terdakwa Bahar bin Smith terbukti bersalah menganiaya dua santrinya yang masih di bawah umur di pondok pesantren miliknya kawasan Kabupaten Bogor.

“Terdakwa terbukti bersalah sesuai pasal Pasal 333 ayat (2) KUHPidana dan atau Pasal 170 ayat (2) dan Pasal 80 ayat (2) jo Pasal 76 C Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak,” katanya.


Editor : Kastolani Marzuki