JPU Tolak Seluruh Eksepsi Habib Bahar bin Smith di Kasus Penganiayaan

Antara ยท Kamis, 14 Maret 2019 - 17:42 WIB
JPU Tolak Seluruh Eksepsi Habib Bahar bin Smith di Kasus Penganiayaan

Terdakwa kasus dugaan penganiayaan terhadap dua remaja Habib Bahar bin Smith berjalan keluar ruangan seusai menjalani sidang lanjutan di Gedung Perpustakaan dan Kearsipan Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (14/3/2019).(ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi)

BANDUNG, iNews.id – Jaksa Penuntut Umum (JPU) menolak seluruh eksepsi (nota keberatan) yang dilayangkan kuasa hukum Habib Bahar bin Smith, terdakwa perkara penganiayaan dua remaja di Kabupaten Bogor. Surat dakwaan yang dijadikan poin keberatan sudah sesuai dengan fakta.

"Menolak atas eksepsi atau nota keberatan dari penasihat hukum terdakwa," kata JPU Suharja, dalam sidang lanjutan perkara dengan terdakwa Habib Bahar bin Smith di ruang sidang Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (14/3/2019).

Suharja mengatakan, tidak ada kekeliruan dalam surat dakwaan tersebut. Dakwakan JPU kepada Bahar Smith telah disusun secara jelas dan cermat. Karena itu, jaksa juga meminta majelis hakim untuk tetap melanjutkan proses persidangan ke tahap pemeriksaan terdakwa.

BACA JUGA: Didakwa Pasal Berlapis, Habib Bahar Smith Diancam Maksimal 9 Tahun

"Meminta kepada majelis hakim untuk tetap menerima surat dakwaan yang dibacakan pada Kamis 27 Februari untuk dijadikan dasar pemeriksaan atas nama Habib Bahar bin Smith," ujarnya.

PU menyimpulkan, permohonan eksepsi Bahar Smith melalui kuasa hukumnya dirasa tidak berdasar sehingga jaksa meminta hakim untuk menolak eksepsi tersebut.

Sementara itu, Ketua Majelis Hakim Edison Muhammad meminta waktu untuk  memutuskan sikap dalam bentuk putusan. Persidangan akan dilanjutkan pada dengan agenda pembacaan putusan sela, Kamis (21/3/2019).

"Majelis akan memutuskan sikap dalam bentuk putusan. Untuk itu majelis akan meminta waktu satu minggu," kata Muhammad.

Diketahui, selaih Habib Bahar, ada dua terdakwa lain yakni Agil Yahya dan Abdul Basit Iskandar yang diduga terlibat dalam kasus penaniayaan tersebut.


Editor : Donald Karouw