Pascaerupsi, PVMBG Imbau Warga Tak Beraktivitas di Area Gunung Tangkuban Parahu

Aditya Pratama ยท Rabu, 31 Juli 2019 - 17:16 WIB
Pascaerupsi, PVMBG Imbau Warga Tak Beraktivitas di Area Gunung Tangkuban Parahu

Kabid Mitigasi PVMBG Wilayah Timur, Devy Kamil Syahbana menjelaskan kondisi terkini Gunung Tangkuban Parahu di Graha BNPB, Jakarta Timur, Rabu (31/7/2019). (Foto: iNews.id/Aditya Pratama)

JAKARTA, iNews.id – Kondisi Gunung Tangkuban Perahu saat ini sudah normal pascaerupsi pada Jumat (26/7/2019) lalu. Namun, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) masih merekomendasikan tidak ada aktivitas di sekitar gunung api itu karena potensi ancaman bahaya masih ada.

Kabid Mitigasi PVMBG Wilayah Timur, Devy Kamil Syahbana menuturkan, masyarakat, pengunjung, wisatawan, pendaki, dan pedagang, diharapkan tidak beraktivitas dulu di sekitar kawah. Area yang direkomendasikan dijauhi dalam radius 500 meter dari kawah aktif.

“Kami imbau tidak beraktivitas dalam radius 500 meter dari kawah aktif atau sepanjang area parkir bibir kawah dan tempat berdagang,” ujar Devy di Graha BNPB, Jakarta Timur, Rabu (31/7/2019).

BACA JUGA:

Gunung Tangkuban Parahu Buka Kembali Kamis, Pedagang Menyambut Baik

Kawasan Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu Diselimuti Abu Vulkanik

Devy menjelaskan, pascaerupsi, Gunung Tangkuban Parahu masih mengeluarkan asap setinggi 50-70 meter di atas dasar kawah. Potensi gunung yang berada di antara Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Subang tersebut untuk erupsi lebih besar memang belum terlihat. Kalaupun terjadi lagi, Tangkuban Parahu akan mengalami erupsi freatik.

“Artinya kalau dia terjadi erupsi, kemungkinan besar dia akan mengalami erupsi yang sama, yaitu erupsi freatik,” ujar Devy.

Dia menambahkan, erupsi freatik memiliki potensi bahaya tersendiri, yang bisa berupa jatuhan tephra dari aktivitas erupsi nantinya. Tephra adalah semua fragmen batuan vulkanik atau lava yang dilontarkan ke udara ketika gunung erupsi.

“Termasuk lontaran batu, pasir, dan abu, dan untuk di sekitar gunung api ada ancaman gas beracun,” katanya.


Editor : Maria Christina