Viral Grup Gay Pelajar SMP, Ratusan Kasek di Garut Deklarasi Anti-LGBT

Ii Solihin ยท Rabu, 10 Oktober 2018 - 16:24 WIB
Viral Grup Gay Pelajar SMP, Ratusan Kasek di Garut Deklarasi Anti-LGBT

Ratusan kepala sekolah di Kabupaten Garut Jabar menggelar deklarasi anti-LGBT, Rabu (10/10/2018). (Foto: iNews/Ii Solihin)

GARUT, iNews.id – Grup gay pelajar SMP-SMK di Garut yang viral di media sosial, menimbulkan keresahan dari berbagai pihak, termasuk institusi pendidikan. Ratusan kepala sekolah se-Kabupaten Garut, Jawa Barat (Jabar), menggelar deklarasi anti-lesbian, gay, biseksual, dan transgender atau LGBT yang dinilai mengancam kalangan pelajar, Rabu (10/10/2018).

Sedikitnya ada 384 kepala sekolah tingkat SMP negeri dan swasta se-Kabupaten Garut yang berpartisipasi dalam deklarasi anti-LGBT di lingkungan sekolah. Deklarasi dipimpin ketua majelis kepala sekolah.

Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Garut Totong mengatakan, pihaknya dengan tegas menolak LGBT di sekolah. Deklarasi ini sebagai bentuk perlawanan dan perang menolak LGBT, khususnya di kalangan pelajar. Kegiatan ini juga bagian dari pembinaan tenaga pendidik kepada para siswa.

“Ini dalam rangka pembinaan kesiswaan di jenjang SMP yang setiap tahun kami lakukan. Kami melawan, perang, dengan tegas menolak LGBT di kalangan para pelajar,” ujarnya.

BACA JUGA:

Heboh Grup Gay Siswa SMP-SMA di Garut, Anggotanya 2 Ribuan Orang

Pemkab Garut Bentuk Tim Telusuri Pembuat Grup Medsos Gay Pelajar

Ridwan Kamil Prihatin dengan Komunitas Gay di Garut 

Dia mengatakan, untuk mengantisipasi LGBT di kalangan pelajar, sekolah di Garut selama ini sudah menjalankan sejumlah program religi. Program-program itu digelar setiap hari di sekolah. “Ada gerakan embun pagi, para guru menyambut siswa dengan baik dan sopan santun, kemudian ada one day ten ayat Alquran, komunitas asmaul husna, juga duha berjamaah. Ini yang kami lakukan. Kami lebih kepada religiusitas,” paparnya.

Sekolah-sekolah di Garut juga melarang siswa menggunakan ponsel selama kegiatan belajar mengajar di sekolah. Sekolah intens mengadakan razia ponsel, sejak awal dari Januari 2018. “Ini adalah upaya pencegahan,” ujarnya.

Menyikapi grup gay pelajar SMP-SMA Garut yang viral di media sosial, pihaknya belum bisa menerimanya. Para pendidik berharap itu tidak benar. “Mudah-mudahan ini di dunia maya aja, tidak nyata. Kami pun sebenarnya masih menginventarisasi, tapi sampai saat ini tidak ada laporan-laporan di sekolah. Kami juga meyakinkan kepada para orang tua, harap tenang dan tidak panik menghadapi ini,” katanya.

Kalau seandainya nanti ditemukan fakta terkait grup gay pelajar SMP-SMA di Garut, tentu ada pembinaan dan penanganan dari sekolah. Hal ini dilakukan oleh para guru dan kepala sekolah. Namun kalau berdampak luas terhadap nama baik masyarakat, orang tua, termasuk sekolah, maka sekolah juga akan memilih cara lain. Jika perlu, sekolah juga akan melibatkan lintas sektoral.

“Ya, apa daya, jalan terakhir. Kami ada sanksi tegas, bisa dikeluarkan dari sekolah supaya ada efek jera, supaya mendidik kepada yang lain. Yang pasti, hal-hal seperti itu (LGBT) tidak baik untuk dilakukan. Kami tetap berkomitmen bahwa anak-anak Garut adalah anak-anak yang religius, yang baik, anak yang berkarakter,” paparnya.


Editor : Maria Christina