13.700 Ekor Anjing Dibantai di Solo Raya, Dog Meet Free: Status Jateng Bebas Rabies Terancam

Kastolani ยท Selasa, 03 Desember 2019 - 20:01 WIB
13.700 Ekor Anjing Dibantai di Solo Raya, Dog Meet Free: Status Jateng Bebas Rabies Terancam

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menerima kunjungan Dog Meet Free Indonesia di Semarang. (Foto: Huma sPemprov Jateng)

SEMARANG, iNews.id – Belasan ribu ekor anjing dibantai di Solo Raya untuk dikonsumsi dagingnya. Dari data Dog Meet Free Indonesia (DMFI) menyebutkan ada 13.700 ekor anjing yang dibantai dengan jumlah terbanyak di Kota Solo.

DMFI juga menyebutkan 100 lebih warung olahan anjing berada di wilayah Solo Raya. Di Kota Solo saja ada 82 warung.

Sementara untuk memenuhi kebutuhan tersebut setiap bulan sebanyak 13.700 ekor anjing dibantai di wilayah tersebut dengan pemasok utamanya adalah Jawa Barat yang notabene belum terbebas dari rabies. 

Padahal sejak tahun 1995 di Jawa Tengah sudah tidak ditemukan lagi kasus rabies. Melihat perkembangan tersebut akhirnya Kementerian Pertanian mengeluarkan surat keputusan Nomor 892/Kota/TN.560/9/1997 yang menyatakan Jateng bebas rabies.

BACA JUGA: Pemilik 6 Anjing yang Disiram Air Panas: Saya Lihat Kulit Mereka Terkelupas Perlahan

Koordinator DMFI Pusat, Karin Franken mengatakan status tersebut kini terancam karena konsumsi Hewan Pembawa Rabies (HBR) di Jawa Tengah, anjing salah satunya cukup tinggi.  

“Kondisi saat ini banyak (anjing) yang dikirim ke Jateng. Makanya kita minta pemerintah ambil langkah cepat untuk menghentikan konsumsi itu, Salariga, Semarang, Solo, Sukoharjo, Sragen. Solo paling banyak. Selain konsumsi daging, alat transportasinya juga memicu penyakit rabies," katanya saat menemui Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Selasa (3/12/2019).

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengatakan, anjing bukanlah binatang untuk dikonsumsi. Bahkan hak tersebut juga telah diatur dalam perundang-undangan, yakni Undang-undang No 18 tahun 2012 tentang Pangan.

Tepatnya Pasal (1) yang mengatakan bahwa anjing tidak termasuk dalam makanan konsumsi karena bukan merupakan sumber hayati produk peternakan, kehutanan atau jenis lainnya. 

"Undang-undang juga tidak membolehkan. Umpama beberapa kabupaten menginisiasi melarang, yang lain ikutan. Nanti biar kepala dinas saya memanggil dinas-dinas terkait," kata Ganjar. 

Terkait fenomena itu, Ganjar menginstruksikan agar pemerintah daerah setempat membuat peraturan larangan yang tegas.  “Kita mesti mendorong Pemerintah Kota Solo untuk membuat aturan yang tegas, DPRD-nya membuat regulasi yang melarang orang makan atau berjualan daging anjing," kata Ganjar. 

Politisi PDIP itu mengajak masyarakat yang terlanjur membuka warung olahan daging anjing untuk beralih usaha. Bagi yang terbiasa mengkonsumsi, Ganjar mengatakan masih banyak daging yang lebih enak dengan kualitas terjamin. 

“Makanlah daging yang memang layak untuk dikonsumsi. Sapi lebih enak, ayam lebih enak. Nanti bahayanya adalah rabies dan ini akan merajalela. Itu yang saya kira masyarakat pemakan anjing perlu disadarkan," katanya. 


Editor : Kastolani Marzuki