Putus Asa Melawan Sakit, Afandi Ajukan Suntik Mati ke Kejari Batang

Eddie Prayitno ยท Jumat, 14 September 2018 - 14:05 WIB
Putus Asa Melawan Sakit, Afandi Ajukan Suntik Mati ke Kejari Batang

Affandi yang meminta suntik mati dan istri Salehati yang setia merawat suaminya sakit sejak 2004. (Foto: iNews/Eddie Prayitno)

BATANG, iNews.id – Seorang warga Batang, Jawa Tengah (Jateng) mengajukan permohonan eutanasia atau suntik mati. Keputusan itu diambilnya lantaran sakit menahun yang dideritanya tak kunjung sembuh dan keterbatasn biaya hingga keluarga pun putus asa.

Adalah Afandi, warga RT 5/RW 2 Desa Timbang, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Batang, yang mengajukan permohonan suntik mati ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Batang. Lelaki berusia 48 tahun itu mengaku sudah selesai dengan kehidupannya di dunia ini.

Sejak 14 tahun lalu, suami Salehati itu setiap hari hanya bisa terbaring di dalam kamarnya. Makan, minum, mandi, hingga buang air, Afandi harus dilayani sang istri dan dua anaknya.

Keluarga sudah berkali-kali memeriksakan Afandi, baik ke dokter maupun pengobatan alternatif. Namun hingga saat ini tidak diketahui persis penyakit yang dideritanya.


BACA JUGA:

Tertabrak Kereta di Jalur Rel Ganda, Warga Purwokerto Tewas

Heli Water Bombing Tiba, Pemadaman Api di Sumbing Ditarget 2 Hari


Keterangan dokter dan petugas kesehatan, Afandi mengidap penyakit lambung dan maag. Anehnya, pengobatan yang selama ini dilakukan tidak kunjung memberikan hasil. Afandi tetap tergolek di kamarnya.

Bebannya semakin berat lantaran harta bendanya telah habis dijual untuk biaya pengobatan. Yang tersisa hanya rumah yang ditinggali bersama istri dan dua anaknya.

Fasilitas BPJS Kesehatan dari pemerintah juga pernah dimanfaatkan Afandi. Namun sekarang tidak bisa lagi karena telah melebih plafon anggaran yang ditetapkan. Perbedaan pelayanan yang diterima juga menjadi alasan Afandi enggan lagi berurusan dengan rumah sakit menggunakan BPJS.

"Saya sudah putus asa dengan penyakit ini. Saya seperti ini sejak 2004 . Saya memutuskan untuk meminta suntik mati (euthanasia),” kata Afandi, Jumat (14/9/2018).

Menurutnya, hingga kini belum ada perhatian khusus dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang. Padahal bupati yang baru saat ini sedang menggalakkan program Kartu Batang Sehat (KBS). Mantan perajin tempe ini mengaku tidak tahu-menahu mengenai informasi program tersebut, apalagi didaftarkan menjadi peserta KBS.

Sementara itu, Salehati, istri Afandi mengaku dirinya tak bisa berbuat banyak. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, dia hanya mengandalkan bantuan dan belas kasihan saudara serta tetangga.

“Saya berharap pemerintah bisa membantu biaya pengobatan dan meringankan beban hidup yang semakin berat. Apalagi masih ada tanggungan dua orang anak yang masih duduk di bangku sekolah,” tutur Salehati.

Menurutnya, permintaan suntik mati telah diajukan ke Kejari Batang dan Kejati Jateng pada 2017. Namun hingga kini belum ada jawaban.


Editor : Donald Karouw