Pria yang Minta Disuntik Mati Akhirnya Dievakuasi ke RSUD Batang

Suryono · Jumat, 14 September 2018 - 21:35 WIB
Pria yang Minta Disuntik Mati Akhirnya Dievakuasi ke RSUD Batang

Afandi, penderita mag kronis yang sempat meminta disuntik mati akhirnya dievakuasi ke RSUD Batang, Jateng. (Foto: iNews/Suryono)

BATANG, iNews.id – Pria penderita sakit menahun, Afandi (48), yang minta disuntik mati akhirnya dievakuasi ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Batang Jawa Tengah (Jateng). Proses evakuasi berlangsung dramatis dan haru karena Afandi awalnya enggan dibawa ke rumah sakit. Bupati Batang Wihaji juga ikut membawa korban ke rumah sakit.

Warga Desa Timbang RT 5 RW 2 Kecamatan Banyuputih itu menderita sakit mag kronis selama 14 tahun. Dia hanya bisa berbaring di tempat tidurnya lantaran sakit yang tidak kunjung sembuh.

Bupati Batang, Wihaji yang melihat kondisi langsung Afandi mengatakan, Pemkab merespons cepat apa kesulitan yang dialami warganya. Karena itu, bupati ikut langsung mengevakuasi Afandi ke RSUD Batang untuk mendapatkan perawatan intensif. Biayanya akan ditanggung pemerintah daerah.

“Saya baru tahu dari pemberitaan dan langsung datang cek. Harapan saya, segera ditindaklanjuti. Saya perintahkan hari ini juga dibawa ke rumah sakit. Untuk pembiayaan biar pemda yang nanggung, semoga segera sembuh,” papar Wihaji, Jumat (14/9/2018).

BACA JUGA: Putus Asa Melawan Sakit, Afandi Ajukan Suntik Mati ke Kejari Batang

Wihaji mengatakan, dilihat dari kondisinya, sebenarnya keluarga Afandi mampu dari sisi ekonomi. Namun, Pemkab Batang memutuskan memberi bantuan dengan mempertimbangkan kondisi keluarga Afandi. Saat ini di keluarga itu tidak ada lagi yang mencari nafkah. “Kami pemerintah tetap hadir membantu,” ujarnya.

Wihaji juga memberikan motivasi kepada Afandi agar tidak putus asa. Semua penyakit ada obatnya dan semua masalah pasti ada solusinya.

Sementara Afandi menuturkan, penyakit mag kronis yang dideritanya selama 14 tahun membuatnya frustrasi. Seluruh hartanya sudah habis untuk berobat. Karena putus asa, sekitar akhir tahun 2017 lalu, ayah empat anak itu sempat membuat surat permohonan suntik mati atau eutanasia ke Kejari Batang dan Kejati Jateng. Permohonan suntik mati yang dikirimkan lewat pos itu hingga kini belum ada jawaban.

“Saya selalu merasa sakit di bagian perut, kadang kayak ditusuk-tusuk, disayat-sayat,” kata Afandi.

Empat tahun terakhir ini, dia tidak mau minum obat-obatan dari dokter. Dia hanya berobat ke alternatif sehingga kondisinya semakin menurun dan mengganggu psikisnya. Selama dia sakit, Afandi juga tidak bisa lagi mencari nafkah untuk keluarganya. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, mereka hanya mengandalkan dari bantuan dan belas kasihan saudara serta tetangganya.

“Selama ini, enggak ada lagi yang mencari nafkah. Kami hidup dari belas kasihan tetangga dan saudara. Kadang ngasih beras, kadang ngasih duit,” kata Afandi.

Afandi berharap kepada pemerintah setempat untuk bisa membantu biaya pengobatannya dan meringankan beban hidup keluarganya yang semakin berat. Apalagi, saat ini dua anaknya yang masih duduk di bangku sekolah masih membutuhkan biaya.


Editor : Maria Christina