Akibat Mitos Aneh, Pegawai Negeri Enggan Masuk Dusun Ini

Musyafa ยท Minggu, 08 April 2018 - 12:13 WIB
Akibat Mitos Aneh, Pegawai Negeri Enggan Masuk Dusun Ini

Aktivitas warga di salah satu rumah di Dusun Ngaglak, Desa Kedung Asem, Kecamatan Sumber, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Minggu (8/4/2018). Di dusun ini, ada mitos yang membuat pegawai negeri enggan berkunjung. Jika nekat mendatangi Dusun Ngaglek, y

REMBANG, iNews.id - Ada mitos aneh yang membelit sebuah dusun di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Dusun ini menjadi pantangan untuk dimasuki pegawai negeri, maupun anggota TNI/Polri. Kalau mereka nekat masuk ke dusun tersebut, yang bersangkutan dipercaya akan kena sial. Kondisi ini pun mengakibatkan pelayanan kepada masyarakat menjadi terganggu, karena bidan desa pun tidak mau masuk ke dusun tersebut.

Nama dusun itu adalah Dusun Ngaglik, yang terletak di Desa Kedung Asem, Kecamatan Sumber, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Dusun berpenghuni sekitar 40 kepala keluarga ini, selama puluhan tahun mendapatkan perlakuan tidak adil dari aparat abdi negara, hanya karena pengaruh mitos turun temurun yang tidak jelas sumbernya.

Muncul kepercayaan, tiap kali pegawai negeri, anggota TNI atau Polri nekat masuk ke Dusun Ngaglik, akan mengalami sial. Entah jabatannya dicopot, kecelakaan atau kesialan lainnya.

Mitos ini pun berdampak buruk bagi warga Dusun Ngaglik. Pasalnya, pelayanan publik yang harusnya dapat diakses warga menjadi terhambat. Gara-gara ada mitos itu, bidan desa yang berstatus pegawai negeri bahkan tidak berani masuk Dusun Ngaglik.

Akibatnya, tiap kali ibu usai melahirkan, tidak pernah mendapatkan penanganan oleh bidan desa. Padahal sesuai aturan, ibu melahirkan beserta bayinya, selama masa nifas 42 hari, menjadi tanggung jawab bidan desa. Kalaupun ingin diperiksa bidan, ibu dan bayinya terpaksa harus dibawa keluar kampung dulu.

Hal tersebut sebagaimana yang dituturkan Khoiriyah, salah seorang warga Dusun Ngaglik. Dia mengaku, setelah melahirkan dirinya memeriksakan dirinya sendiri ke puskesmas. Pasalnya, bidan yang harusnya menanganinya tidak mau masuk ke dusun tempatnya tinggal.

“Ya itu karena ada mitos itu. Bidannya jadi takut masuk ke Dusun Ngaglik. Ya harapan saya bidannya mau masuk ke sini biar pelayanannya sama kayak yang lain. Soalnya puskesmas juga cukup jauh. Sekitar lima kilometer dari sini,” ucapnya saat ditemui di rumahnya, Minggu (8/4/2018) pagi.





Kondisi semacam ini pun membuat warga mengeluh. Mereka mendesak agar mendapatkan perlakuan yang sama dan tidak dikucilkan seperti ini. Apalagi di zaman modern seperti sekarang, tidak selazimnya orang masih percaya dengan mitos. Lebih-lebih pegawai negeri termasuk kaum berpendidikan.

Sukarjan, salah seorang tokoh masyarakat di Dusun Ngaglik mengatakan, keberadaan mitos tersebut sudah sangat mengganggu pelayanan kepada warga. “Misalnya bidan desa yang masih mau ke dusun-dusun lain. Sementara kalau ke Dusun Ngaglik mereka tidak mau. Idealnya setiap ada bayi yang baru lahir hingga 40 hari harus mendapat kunjungan minimal tiga kali dari bidan desa. Tapi di Dusun Ngaglik sejak dulu hingga sekarang tidak ada yang berani ke sini,” katanya.

Menurut Sukarjan, masalah mitos Dusun Ngaglik ini sudah didengar pula oleh pihak puskesmas maupun kecamatan setempat. Berbagai imbauan untuk tidak mempercayai mitos masuk Dusun Ngaglik akan ketiban sial, sudah sering disampaikan. Namun sayangnya, jajaran pegawai di tingkat bawah belum sepenuhnya mau mengikuti. Lagi-lagi alasan terlanjur takut masih membuat mereka enggan ke Ngaglik.

Tak hanya pelayanan kesehatan, ihwal pernikahan pun menjadi masalah yang cukup pelik di Dusun Ngaglik. Pasalnya, pegawai Kantor Urusan Agama (KUA) juga enggan masuk ke sana. Para warga yang hendak melangsungkan pernikahan harus menggelarnya di tempat lain, atau datang langsung ke kantor KUA.

Sukarjan berharap, para pegawai yang harusnya bertugas di Dusun Ngaglik untuk tidak takut dengan adanya mitos tersebut. “Mitos ini sangat merugikan warga. Masalahnya, yang namanya pelayanan harus bisa dilakukan secara langsung. Tapi kalau pegawainya tidak mau masuk ke sini bagaimana kami bisa memperoleh pelayanan tersebut,” katanya.


Editor : Himas Puspito Putra