Ancam Pakai Foto Vulgar, Pemuda di Semarang Setubuhi Gadis Desa

Okezone, Taufik Budi ยท Jumat, 11 Januari 2019 - 19:00 WIB
Ancam Pakai Foto Vulgar, Pemuda di Semarang Setubuhi Gadis Desa

Tersangka AM (19) ketika dibekuk polisi di Mapolres Semarang. (Foto: Okezone).

SEMARANG, iNews.id – Seorang pemuda, AM (19), warga Sukorejo, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang, menyetubuhi perempuan yang masih duduk di kelas 2 SMA. Tersangka melangsungkan aksinya dengan cara mengancam korban.

Kasubag Humas Polres Semarang, AKP Teguh Susilo Hadi mengatakan, tersangka AM menyimpan foto vulgar milik korban. Dia mengancam akan menyebarkannya ke media sosial (medsos) bila korban menolak melayani keinginannya.

"Modusnya dengan bujuk rayu dan ancaman, menyebar foto vulgar korban ke medsos," kata Teguh di Mapolres Semarang, Jawa Tengah (Jateng), Jumat (11/1/2019).

BACA JUGA: Ingat Mantan Istri, Kakek Ini Setubuhi Anak Kandungnya Sendiri

Tersangka AM, kata dia, memang telah berhasil menipu daya korbannya agar mau difoto dengan busana seksi. Namun siapa sangka, foto tersebut justru menjadi "senjata" tersangka untuk mengeksploitasi korban.

Korban, A (17) merupakan warga Desa Sukorejo, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang, tinggal tidak jauh dengan tersangka. Dia pada akhirnya merasa lelah dengan kelakuan tersangka, karena kerap kali meminta berhubungan, disertai paksaan.

"Korban merasa tertekan, kemudian cerita kepada orang tuanya yang kemudian melapor ke polisi. Dari laporan tersebut, polisi mengamankan tersangka," ujar dia.

BACA JUGA: Tak Kuat Tahan Syahwat, Pria 73 Tahun Tiduri Anak Tiri Hingga Hamil

Hubungan badan dengan paksaan yang dilakukan tersangka kepada korban ternyata bukan hanya satu kali. AM selalu meminta "jatah" sejak Januari 2018 lalu sampai Januari 2019.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, tersangka dijerat Pasal 81 ayat (1) dan ayat (2) juncto Pasal 76 D Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

AM kini terancam hukumannya penjara minimal 5 tahun dan paling lama 15 tahun serta denda maksimal Rp5 miliar.


Editor : Andi Mohammad Ikhbal