Batasan Perawan Menurut Ulama Fikih

Kastolani ยท Sabtu, 30 November 2019 - 04:30 WIB
Batasan Perawan Menurut Ulama Fikih

Keperawanan bagi wanita sangat penting dan merupakan kehormatan utama. (Foto: istimewa)

JAKARTA, iNews.id - Pemulangan Shalfa Avrila Siani, atlet senam lantai di SEA Games 2019 dengan alasan keperawanan yang disampaikan pelatih pelatnas Persani (Persatuan Senam Indonesia) menuai reaksi masyarakat.

Selain dinilai tidak berdasar, tudingan tersebut juga mencoreng nama baik siswi kelas 3 SMA di Kediri, Jatim, termasuk masa depan atlet tersebut. Apalagi hasil tes dokter kandungan RS Bhayangkara Kediri menyatakan selaput dara Shalfa masih utuh.

Lantas seperti apa batasan perawan dalam Islam. Berikut penjelasan ulama fikih soal perawan, seperti dibeberkan Mas Aji Antoro dalam ulasannya tentang batasan janda dan perawan menurut hukum fikih di Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah (PISS-KTB).

1. Pandangan Kalangan Syafi’iyyah

Kalangan Syafi’iyyah menilai yang dimaksud janda adalah wanita yang telah hilang keperawanannya sebab persenggamaan yang halal seperti pernikahan atau persenggemaan yang haram seperti akibat zina atau persenggamaan yang syubhat saat tidur atau terjaga.

Selain itu, tidak memengaruhi hilangnya keperawanan yang bukan akibat persenggamaan di alat kelaminnya seperti akibat jatuh, kelancaran darah haid, atau lamanya menjadi perawan tua. Menurut pendapat yang paling shahih bahkan akibat jari jemari dan sejenisnya, maka hukum wanita yang demikian dihukumi wanita perawan. [ Al-Fiqh al-Islaam IX/198 ].

Perawan adalah istilah bagi wanita yang belum pernah menjalani persenggamaan sama sekali, wanita yang demikian dinamakan perawan asli. Wanita yang hilang keperawanannya akibat terjungkir, haid yang kuat, luka atau perawan tua juga dikategorikan perawan asli.

Begitu juga wanita yang telah menikah dengan ikatan yang sah atau rusak tetapi dia telah ditalak atau ditinggal mati suaminya sebelum digauli dan dicumbui juga tergolong perawan, atau wanita yang dipisahkan oleh seorang hakim dari suaminya yang impoten atau terpotong alat kelelakiannya juga tergolong perawan asli. (Al-Fiqh ala Madzaahib al-Arba’ah IV/23).

2. Pandangan Hanafiyyah

Perawan menurut kalangan Hanafiyyah adalah istilah bagi wanita yang telah hilang keperawanannya sebab pernikahan dan bukan lainnya. Wanita yang hilang keperawanannya akibat selain persenggamaan seperti akibat terjungkir, haid yang kuat, akibat luka atau perawan tua juga dikategorikan perawan asli baik secara hakikat dan hukumnya.

3. Kalangan Malikiiyah

Kalangan Malikiyyah mengartikan bahwa perawan adalah wanita yang belum pernah senggama dengan akad yang shahih atau akad yang rusak yang mendudukinya, sebagian pendapat menyatakan perawan adalah istilah dari wanita yang belum hilang keperawanannya sama sekali. (Al-Mausuu’ah al-Fiqhiyyah VIII/178).

Wallahu a'lam bishshawab


Editor : Kastolani Marzuki