BP3AKB Jateng Bentuk Tim Khusus Tangani Kasus Mabuk Rebusan Pembalut

Wisnu Wardhana ยท Kamis, 08 November 2018 - 18:17 WIB
BP3AKB Jateng Bentuk Tim Khusus Tangani Kasus Mabuk Rebusan Pembalut

Kepala Bidang Pemberantasan BNNP Jateng, AKBP Suprinarto menunjukkan pembalut yang dipakai anak jalanan untuk mabuk dengan cara direbus. (Foto: iNews.id/Wisnu Wardhana)

SEMARANG, iNews.id - Kasus anak-anak jalanan yang mabuk dengan minum rebusan pembalut wanita membuat prihatin sejumlah kalangan. Tak terkecuali Badan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Dan Keluarga Berencana (BP3AKB) Jawa Tengah. Instansi tersebut akan membentuk tim khusus untuk menangani fenomena yang meresahkan masyarakat.

Seksi Perlindungan Anak BP3AKB Jawa Tengah, Isti Ilma Patriani mengatakan, tim khusus tersebut akan mendalami dan melakukan pendampingan kepada anak-anak yang telah menyalahgunakan pembalut wanita sebagai alat untuk mabuk-mabukan.

Dia menjelaskan, dari penuturan anak-anak jalanan itu mereka meminum air rebusan pembalut wanita untuk melepaskan diri dari tekanan. “Fenomena tak lazim ini memang kerap dilakukan anak-anak jalanan. Mereka melakukan itu karena tidak punya uang,” katanya, Kamis (8/11/2018).

BACA JUGA:

Kata Remaja yang Minum Rebusan Pembalut: Sensasinya Bikin Ngeri

BNNP Temukan Sejumlah Remaja di Jateng Kecanduan Air Rebusan Pembalut

Menurut Isti, remaja berusia 13 hingga 16 tahun ini memang rentan dengan pengaruh lingkungan dan mempunyai sikap untuk mencoba hal yang baru dengan meminum air rebusan pembalut wanita yang mengandung zat chlorine berbahaya yang terdapat di dalam gel.

Isti mengatakan, kasus anak-anak jalanan tersebut baru terjadi di sejumlah daerah di Jawa Tengah, seperti Kudus, Jepara, Rembang, dan Purwodadi. Namun, kasus tersebut harus segera dihentikan agar tidak menyebar ke daerah lain. “Kami akan terus mendalami dan melakukan pendampingan karena hal ini dapat merusak generasi muda,” ujarnya.

Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Tengah (Jateng), menemukan kasus baru. Sejumlah remaja di provinsi itu terindikasi perilaku menyimpang karena gemar merebus pembalut untuk mengonsumsi airnya. Mereka mengaku merasakan efek mirip sensasi setelah mengonsumsi narkotika jenis sabu.

Kepala Bidang Pemberantasan BNNP Jateng, AKBP Suprinarto mengatakan, sudah menemukan kasus tersebut di beberapa daerah. Kebanyakan mereka anak-anak muda yang mendiami wilayah pinggiran kota, seperti Purwodadi, Kudus, Pati, Rembang, dan Kota Semarang bagian timur.

Anak-anak yang mulai kencanduan mengonsumsi air rebusan pembalut tersebut, masih berusia 13-16 tahun. Keterbatasan ekonomi menjadi alasan utama bagi anak-anak tersebut. Mereka tak mampu membeli sabu yang harganya mencapai jutaan rupiah per gram.


Editor : Kastolani Marzuki