Diduga Depresi, Napi Rutan Solo Tewas Bunuh Diri Minum Cairan Pembersih Lantai

Septyantoro ยท Senin, 15 Juli 2019 - 19:18 WIB
Diduga Depresi, Napi Rutan Solo Tewas Bunuh Diri Minum Cairan Pembersih Lantai

Sie Haryanto alias Yusak, narapidana yang bunuh diri di Rutan Kelas 1 Solo, Jateng, saat ditangkap akibat kasus investasi bodong, Desember 2017 lalu. (Foto: iNews/Septyantoro)

SOLO, iNews.id – Seorang narapidana (napi) bunuh diri dengan cara meminum cairan pembersih lantai di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas 1 Solo, Jawa Tengah (Jateng), Senin (15/7/2019). Napi bernama Sie Haryanto alias Yusak warga Jebres, Solo, itu diduga nekat mengakhiri hidupnya karena depresi di dalam tahanan.

Kepala Pengamanan Rutan Klas 1 A Solo Andi Rahmanto mengatakan, dia mengetahui kejadian itu setelah mendapat laporan dari warga binaan. Mereka menemukan seorang napi penghuni Blok B yang muntah-muntah dan mulutnya berbusa.

Saat petugas datang, Haryanto yang merupakan napi perkara investasi bodong itu sudah tidak sadarkan diri hingga akhirnya dirawat di poliklinik Rutan Solo. Namun, pada pukul 13.00 WIB, kondisi napi semakin memburuk sehingga dilarikan ke RSUD dr Moewardi Solo.

“Napi ini melakukan percobaan bunuh diri dengan minum cairan pembersih lantai kamar mandi. Setelah setengah jam, dokter memutuskan dibawa ke rumah sakit karena kondisinya semakin menurun dan melemah,” kata Andi.


BACA JUGA: Tewas Gantung Diri, Pemuda di Medan Kirim Pesan untuk Kekasihnya


Namun, belum lama dibawa dan diperiksa, pihak RSUD dr Moewardi Soli mengatakan Haryanto sudah meninggal dunia. Nyawanya tidak tertolong karena menenggak cairan pembersih lantai.

“Sampai di rumah sakit, jam 13.20 WIB, dilakukan pemeriksaan dan kemudian jam 13.35 WIB, oleh rumah sakit, Haryanto dinyatakan meninggal,” kata Andi.

Sementara menurut keterangan dari petugas Rutan Solo, sebelum bunuh diri, Yusak sehari-hari terlihat normal. Tidak ada aktivitas yang mencurigakan dan menunjukkan dia sedang berencana bunuh diri. Namun, warga binaan yang mengenalnya menduga almarhum yang ditangkap pada 17 Desember 2017 karena kasus investasi bodong itu, depresi karena dipenjara.


Editor : Maria Christina