Gus Yusuf Berharap UU Pesantren Bawa Kebaikan untuk Santri dan Guru Ngaji

Kastolani · Selasa, 08 Oktober 2019 - 06:30 WIB
Gus Yusuf Berharap UU Pesantren Bawa Kebaikan untuk Santri dan Guru Ngaji

Santri kini tak perlu minder lagi karena keberadaan pendidikan pesantren sudah diakui negara. (Foto: Dok.iNews.id)

SEMARANG, iNews.id - Disahkannya Undang-Undang Pesantren membawa angin segar bagi dunia pesantren di Indonesia.

UU itu diharapkan mampu menyejahterakan pesantren dan guru ngaji.

Ketua DPW PKB Jateng KH Yusuf Chudlori mengatakan, dengan adanya UU ini dorongan dana APBN ditambah.

"Misal BOS pesantren. Yang lebih penting kesejahteraan bagi guru ngaji," kata pria yang akrab disapa Gus Yusuf di sela-sela Diskusi Publik "Bedah Undang-Undang Pesantren" yang digelar PWNU Jateng dan DPW PKB Jateng, di Semarang, Senin (7/10/2019) malam.

Gus Yusuf menginginkan UU Pesantren ini benar-benar membawa kebaikan bagi santri dan pesantren.

"Jangan sampai seperti soal desa. Di mana setelah ada nomenklaturnya, di kementerian, kemudian ada dana desa, namun ada banyak kades-kades yang masuk penjara," katanya.

Gus Yusuf juga berharap dengan adanya undang-undang ini, keberadaan pesantren tidak menjadi lembaga pendidikan yang dianaktirikan.

"UU ini dari kita, oleh kita, tapi jangan sampai menjerat kita," ucapnya.

Menurut Gus Yusuf, dunia pesantren juga harus bisa mengakses semua fasilitas negara yang ada.

Sebab di pesantren, tak hanya melulu soal pendidikan, namun ada beragam aspek di dalamnya.

"Ada aspek budaya hingga ekonomi. Dengan UU ini agar semua pesantren bisa akomodir dan akses fasilitas negara," kata Gus Yusuf.

Ketua DPP PKB Bidang Pendidikan dan Pesantren ini menambahkan, dalam UU ini ada definisi pesantren. Mulai dari adanya kiai, masjid, madrasah, hingga adanya pendidikan khas, seperti kajian kitab kuning.

"Ada rambu-rambu. Jadi bukan hanya ada papan saja, kemudian juga bisa disebut pesantren. Atau kemudian muncul pesantren-pesantren dadakan," ujarnya.

Ketua PWNU Jateng KH Muhammad Muzammil mengatakan, keberadaan pesantren harus terus berkibar untuk membangun karakter bangsa.

"Pesantren harus membawa kemaslahatan ummat. Kita juga memberikan apresiasi kepada PKB yang konsen dengan masalah pesantren ini," katanya.

Anggota FPKB DPR Marwan Dasoppang mengatakan, lahirnya UU ini karena selama ini pesantren masih dianggap sebagai lembaga pendidikan yang baru lahir.

"Padahal ada faktor historis juga, dimana Pesantren juga ajarkan nilai keislaman dan kebangsaan berupa cinta tanah air," katanya.

Marwan yang juga mantan Ketua Panja RUU Pesantren ini mengakui, diawal-awal pembahasan sempat mendapat kritik dari PBNU. Sebab ada kekhawatiran undang-undang ini akan menghilangkan independensi pesantren.

"Karena pada DIM nya buka peluang pemerintah masuk. Lihat kiainya dan lain-lain," katanya.

Atas hal tersebut, kata Marwan, RUU ini akhirnya juga dibahas bersama PBNU, sehingga semua pasal-pasal yang memungkinkan pemerintah bisa intervensi pesantren hilang semua. "Sudah sesuai keinginan PBNU," ucapnya.

Ketua PBNU KH Said Aqil Siroj dalam sambutan videonya juga meminta para pengurus NU ikut mengawal undang-undang ini.

Dia juga memberikan apresiasi kepada jajaran PKB yang telah mengawal munculnya UU ini.

"Namun semua juga harus tetap jaga independensi pesantren," katanya.

Acara diikuti para pengurus NU yang dipimpin langsung Rois Syuriah PWNU KH Ubaidillah Shodaqoh, Ketua Tanfidz KH Muhammad Muzammil beserta badan otonom (banom) yang ada. Hadir pula Sekretaris DPW PKB Jateng Sukirman, dan anggota dewan dari PKB, serta sejumlah pimpinan Ponpes di provinsi ini.


Editor : Kastolani Marzuki