Kasatreskrim Wonogiri Sudah 5 Hari Koma di RS, Begini Penjelasan Tim Medis

Ary Wahyu Wibowo, Sindonews ยท Senin, 13 Mei 2019 - 21:42 WIB
Kasatreskrim Wonogiri Sudah 5 Hari Koma di RS, Begini Penjelasan Tim Medis

Kakak kandung AKP Aditia Mulya, Yudha Mulya Angga Sasmita bersama tim medis RS Dr Oen Solo saat memberikan keterangan pers terkait kondisi AKP Aditia. (Foto: SINDOnews)

SUKOHARJO, iNews.id - Kasatreskrim Polres Wonogiri AKP Aditia Mulya Ramdhani korban pengeroyokan sudah lima hari koma dan tidak sadarkan diri.

Rencana pihak keluarga membawa korban ke ruah sakit (RS) di Singapura pun sementara dibatalkan mengingat kondisi pasien yang tidak memungkinkan menempuh perjalanan jauh.

Diketahui, AKP Aditia dikeroyok sekelompok massa saat menghalau konvoi kelompok massa di Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Wonogiri.

Saat ini, korban masih intensif dirawat di RS Dr Oen Solo Baru, Kecamatan Grogol, Sukoharjo. Kondisi AKP Aditia belum ada kemajuan signifikan meski telah ditempuh tindakan operasi untuk mengangkat pendarahan di bagian kepala. Korban mengalami multiple jejas.

Atau sebab sebab pasien mengalami trauma berupa lecet di sekujur tubuh dan perdarahan di bagian kepala. “Pasien mengalami cedera kepala berat, di mana ada perdarahan di otak yang kemudian diambil tindakan operasi mengangkat perdarahan,” kata Kabid Pelayanan Medis RS Dr Oen Solo Baru, Yohana Denyka Kurniawati saat jumpa pers, Senin (13/5/2019).

BACA JUGA: Dikeroyok Perguruan Silat, Kasat Reskrim Polres Wonogiri Sudah 3 Hari Tak Sadar

Kondisi korban diakui cukup berat karena perdarahan yang luas. Terdapat dua dokter yang menangani pasen. Yakni dokter bedah saraf dan dokter anastesi. Terkait penyebab trauma, pihak rumah sakit belum bisa memastikan benda seperti apa yang mengenai pasien.

Secara medis, rumah sakit sudah melakukan tindakan sesuai standar ilmu kedokteran. “Kami langsung melakukan CT scan dan pemeriksaan penunjang medis lainnya,” terang dia.

Kakak kandung AKP Aditia Mulya, Yudha Mulya Angga Sasmita mengatakan, keluarga sempat berencana membawa korban ke Singapura guna mencari alternatif pengobatan.

Namun mempertimbangkan kondisi pasien pasca operasi masih belum sadar, akhirnya keluarga memutuskan memaksimalkan pengobatan di RS Dr Oen Solo Baru.

“Masalah kesehatan dan kondisi adik kami menjadi pertimbangan, termasuk resikonya. Maka kami percayakan yang terbaik di sini,” paparnya.


Editor : Kastolani Marzuki