Keluarga BJ Habibie Gelar Tahlilan Selama 40 Hari, Ini Dalil dan Hukumnya

Kastolani ยท Jumat, 13 September 2019 - 02:37 WIB
Keluarga BJ Habibie Gelar Tahlilan Selama 40 Hari, Ini Dalil dan Hukumnya

Upacara pemakaman secara militer BJ Habibie di TMPN Kalibata, Jakarta Selatan, Kamis (12/9/2019). (Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay).

JAKARTA, iNews.id – Wafatnya Presiden ke-3 RI Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie meninggalkan duka mendalam bagi seluruh bangsa.

Salah satu putra terbaik bangsa ini wafat pada usia 83 tahun setelah berjuang melawan penyakitnya di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, Rabu (11/9/2019) pukul 18.05.

Untuk mendoakan arwah almarhum, keluarga BJ Habibie akan menggelar doa (tahlilan) selama 40 hari berturut-turut terhitung sejak Kamis (12/9/2019) malam.

Putra BJ Habibie, Ilham Habibie, menuturkan, tahlilan selama 40 hari itu pernah dilakukan sebelumnya saat Hasri Ainun Besari atau Ainun Habibie berpulang pada 2010. Keluarga, sahabat dan kolega akan mengirimkan doa untuk mendiang BJ Habibie.

"Sampai 40 hari ke depan, setiap hari akan tahlilan. Jadi ini seperti meng-copy pada saat Ibu (Ainun Habibie) wafat dulu. Waktu itu juga tiap hari sampai dengan hari ke-40 tahlilan," ujarnya di Taman Makam Pahlawan Nasional (TMPN) Kalibata, Jakarta Selatan, Kamis (12/9/2019).

Lantas bagaimana hukum tahlil dan dalilnya?

Secara bahasa tahlilan berakar dari kata hallala, yuhallilu, tahlilan artinya adalah membaca “Lailaha illallah.” 

Istilah ini kemudian merujuk pada sebuah tradisi membaca kalimat dan doa- doa tertentu yang diambil dari ayat Alquran, dengan harapan pahalanya dihadiahkan untuk orang yang meninggal dunia. 

BACA JUGA: Keluarga Gelar Tahlilan selama 40 Hari atas Wafatnya BJ Habibie

Biasanya tahlilan dilakukan selama 7 hari dari meninggalnya seseorang, kemudian hari ke 40, 100, dan pada hari ke 1000 nya. Begitu juga tahlilan sering dilakukan secara rutin pada malam Jumat dan malam-malam tertentu lainnya.

Bacaan ayat-ayat Alquran yang dihadiahkan untuk mayit menurut pendapat mayoritas ulama’ boleh dan pahalanya bisa sampai kepada mayit tersebut. Berdasarkan beberapa dalil, di antaranya hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan lainnya;

Dari sahabat Ma’qal bin Yasar r.a. bahwa Rasulallah SAW bersabda: Surat Yasin adalah pokok dari Alquran, tidak dibaca oleh seseorang yang mengharap ridha Allah kecuali diampuni dosa-dosanya. Bacakanlah surat Yasin kepada orang-orang yang meninggal dunia di antara kalian. (HR Abu Dawud, dll)

Adapun beberapa ulama juga berpendapat seperti Imam Syafi’i yang mengatakan bahwa

Disunahkan membacakan ayat-ayat Alquran kepada mayit, dan jika sampai khatam Alquran maka akan lebih baik.

Bahkan Imam Nawawi dalam kitab Majmu’-nya menerangkan bahwa tidak hanya tahlil dan doa, tetapi juga disunahkan bagi orang yang ziarah kubur untuk membaca ayat-ayat Alquran lalu setelahnya diiringi berdoa untuk mayit.

Yang jelas tidak ada larangan tahlilan, karena masuk makna umum dari berzikir.

Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah bersabda: ''Tidaklah duduk suatu kaum kemudian membaca dzikir kepada Allah kecuali mereka akan dikelilingi para malaikat, dislimuti oleh rahmat dan diberi ketentraman hati serta Allah akan memuji mereka dihadapan makhluk- Nya''.

Hadis tersebut diriwayatkan oleh Al-Imam Thayalasiy dalam musnadnya halaman 296. dalam kitab musnad Al-Imam Ahmad bin Hanbal juz 3 hal 92 serta banyak dalam musnad musnad lainya seperti: 'Abdun bin Hadid, Shahih Muslim, Abi Ya'la dan masih banyak lainya.

Dalam kitab Al-Ruh halaman 11 juga disebutkan,''Jika ada shahabat dikalangan Anshar meninggal dunia, maka mereka berkumpul di depan kuburnya sambil membaca al-Quran''.


Sumber: 

  • Kitab Risalah Ahl al Sunah wa al Jamaah fi hadits al mauta wa asyrath al sa’at wa bayan mafhum al sunah wa al bidah. (Hadzrat al Syeikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari, Jakarta 2011 LTM PBNU)
  • http://www.piss-ktb.com/2013/07/2522-sekilas-tentang-daliltahlilan.html

    https://islam.nu.or.id/post/read/37823/tentang-tahlilan-dan-dalilnya

     


Editor : Kastolani Marzuki