Korban Pinjaman Online yang Dipermalukan Rela Digilir di Medsos Lapor Polisi

Septyantoro ยท Kamis, 25 Juli 2019 - 17:05 WIB
Korban Pinjaman Online yang Dipermalukan Rela Digilir di Medsos Lapor Polisi

Kuasa hukum Yi korban pinjaman online di Solo menunjukkan surat bukti laporan polisi. (Foto: iNews.id/Septyantoro)

SOLO, iNews.id – Perempuan asal Solo, Yi melaporkan kasus pencemaran nama baiknya ke Polresta Solo setelah dipermalukan salah satu perusahaan financial technology (Fintech) atau pinjaman online

Buruh pabrik garmen yang meminjam uang online melalui Incash itu fotonya disebar ke media sosial dengan diimbuhi tulisan tidak senonoh yang menyatakan bahwa Yi rela digilir untuk membayar utang.

Koordinator LBH Solo Raya, I Gede Saputra mengatakan, korban telah melaporkan kasus tersebut ke polisi dan mengadukan ke beberapa kementerian termasuk Kementerian Peranan Wanita. 

“Ada tendensi mencemarkan nama baik dan pelecehan terhadap kehormatan wanita dan pelanggaran HAM. Selain ke polisi, kami juga tembuskan laporan ini ke Kemenkumham, Kominfo fan YLKI agar masalah ini bisa diusut tuntas,” katanya, Kamis (25/7/2019).

Dia berharap instansi terkait dan aparat berwenang segera bertindak dengan menangkap pelaku yang memviralkan poster bertuliskan kalimat yang merendahkan korban. “Saya harap ke depan para pinjol (penjaman online) ke depan ditindak aparat berwenang dan yang memviralkan tulisan itu bisa ditangkap,” katanya.

BACA JUGA: Buruh Pabrik Garmen Dipermalukan Pinjaman Online, Disebut Rela Digilir Rp1 Juta

Sementara Yi menuturkan, awalnya dia mengenal fasilitas pinjaman online melalui pesan singkat (SMS) berisi promosi pinjaman utang yang menjanjikan kemudahan.

Yi yang bekerja di pabrik garmen kebetulan sedang memiliki masalah ekonomi. Dia kemudian meminjam uang ke Fintech ilegal melalui aplikasi bernama Incash sebesar Rp 1 juta. “Waktu itu saya pinjam melalui aplikasi Incash. Sayaratnya, KTP, foto, terus di handphone harus mengizinkan akses kontak dan galeri. Dari pinjaman Rp1 juta itu, saya hanya dapat Rp680.000 dan harus mengembalikan Rp1.054.000,” katanya saat mengadukan kasus itu ke Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Solo Raya, Kamis (25/7/2019).

Yi mengatakan, pinjaman sebesar Rp680.000 harus dibayarkan selama sepekan. Saat tiba jatuh tempo, Yi mengaku belum sanggup membayar utang pinjaman. Selang tiga hari setelah jatuh tempo, tiba-tiba muncul foto dan kalimat tidak senonoh di grup nasabah fintech.

Menurut Yi, di grup itu orang-orang yang diduga berasal dari perusahaan fintech melakukan teror dengan mempermalukannya. Salah satunya adalah dengan memasang poster foto dirinya disertai tulisan “Dengan ini saya menyatakan bahwa saya rela digilir seharga Rp1.054.000 untuk melunasi hutang saya di aplikasi incash dijamin puas.”

Yi menuturkan, tindakan yang dilakukan perusahaan fintech tersebut dianggap melecehkan harkat dan martabatnya. “Awalnya nelepon, saya bilang minta waktu. Terus besoknya mulai neror dan sebar poster di grup Fintech termasuk WA ke temen-temen saya,” katanya.

 


Editor : Kastolani Marzuki