Lampion Teng-Tengan, Tradisi Warga Kaliwungu Kendal Sambut Maulid Nabi

Eddie Prayitno ยท Rabu, 06 November 2019 - 17:08 WIB
Lampion Teng-Tengan, Tradisi Warga Kaliwungu Kendal Sambut Maulid Nabi

Perajin lampion teng-tengan di Kaliwungu, Kendal mulai banjir pesanan jelang perayaan Maulid Nabi Muhammad. (Foto: iNews/Eddie Prayitno)

KENDAL, iNews.idTradisi teng-tengan menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW masih dipertahankan warga Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Jateng.

Mereka mulai menyiapkan lampion teng-tengan untuk menyambut kelahiran nabi akhir zaman tiap 12 Raibul Awal yang jatuh, Sabtu (9/11/2019) nanti.

Tradisi menyalakan lampion teng-tengan itu hanya bisa ditemui tiap Bulan Maulud. Lampu lampion berbagai bentuk mulai kapal atau bintang itu nantinya dipasang di depan rumah.

Konon tradisi memang lampion ini merupakan bentuk rasa syukur dan penghormatan atas kelahiran Nabi Muhammad SAW yang membawa umat ke zaman terang benderang.

BACA JUGA: Rayakan Maulid Nabi, Warga Kaliwungu Gelar Tradisi Weh-Wehan

Warga Kaliwungu, Gunawan mengatakan, memasang lampion teng-tengan di Bulan Maulud seperti sudah menjadi kewajiban.

“Ya, sudah tradisi tiap maulud. Nantinya lampion diberi lampu berwarna warni dan dipasang di depan rumah,” katanya, Rabu (6/11/2019).

Namun, tradisi itu terancam punah seiring dengan berkurangnya jumlah perajin lampion teng-tengan. Kini, tersisa 10 perajin yang kebanyakan warga di sekitar Masjid Kaliwungu.

Selain dipasang sendiri, mereka juga melayani pemesanan dari warga lain yang ingin memasang lampion di depan rumahnya. Tak heran, jika perajin teng-tengan banjir pesanan.

Salah satunya, Susianto. Warga Kampung Lurungsari, Desa Kutoharjo, Kecamatan Kaliwungu, Kendal ini sudah turun temurun membuat teng-tengan.

Menurut dia, membuat teng-tengan tergolong rumit dan membutuhkan keterampilan khusus. Bahan yang dibutuhkanadalah bambu dan kertas berwarna-warni sebagai hiasannya.

“Bambu yang sudah dipotong sesuai ukuran dan dihaluskan  dibentuk menjadi rangka. Setelah itu, pakai paku dan kawat sebagai pengikat rangka dari bambu ini dibuat sesuai bentuk yang diinginkan,” katanya.

BACA JUGA: Warga Desa Bukit Karangasem Rayakan Maulid Nabi di Tenda Darurat

Untuk membuat rangka teng-tengan berbentuk kapal, Susianto mengaku dalam semalam hanya bisa membuat 2-4 rangka. Sedangkan untuk menutup rangka dengan kertas, setidaknya membutuhkan waktu tiga jam untuk dua kapal berukuran besar.

Dalam satu pekan produksi teng-tengan yang dihasilkan antara 30 hingga 50 buah. Untuk satu buah teng-tengan dijual dengan harga antara Rp25.000-40.000.

Jika sebelumnya lampion teng-tengan ini diberi lampu teplok, sekarang sudah menggunakan lampu hias.

“Saya memilih tetap membuat teng-tengan sebagai usaha sampingan setahun sekali untuk melestarikan budaya Kaliwungu saat Maulid Nabi,” katanya.


Editor : Kastolani Marzuki