Malu Rumahnya Dilabeli Miskin, Ratusan Warga Tegal Mundur dari Penerima Bansos

Yunibar ยท Kamis, 11 Juli 2019 - 16:54 WIB
Malu Rumahnya Dilabeli Miskin, Ratusan Warga Tegal Mundur dari Penerima Bansos

Petugas TKSK melabeli rumah warga penerima bantuan sosial PKH dan BPNT dengan cat semprot di Desa Balaradin, Kecamatan Lebaksiu, Kabupaten Tegal. (Foto: iNews.id/Yunibar)

SLAWI, iNews.id - Ratusan warga Kecamatan Lebaksiu, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah mengundurkan diri sebagai penerima bantuan sosial (bansos) dari Kementerian Sosial (Kemensos).

Mereka bahkan menolak rumahnya dipasangi label miskin dengan cat semprot oleh petugas dari Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK). Kedatangan petugas TKSK ini awalnya hendak melakukan verifikasi dengan mendatangi rumah-rumah warga penerima bansos.

Sikap warga itu karena mereka malu jika dinding rumah mereka diberi label miskin, sehingga memilih mengundurkan diri sebagai penerima bantsos. Petugas pun akhirnya meminta warga membuat surat pernyataan pengunduran diri.

Bantuan dana yang akan dicairkan pada tahun ini adalah bantuan dari program keluarga harapan (PKH) dan bantuan pangan nontunai (BPNT). Penempelan tanda miskin pada dinding dilakukan setelah petugas melakukan verifikasi dengan mendatangi langsung rumah-rumah penerima bantuan.

Jika dinilai layak mendapatkan bantuan, petugas pun memberikan label miskin di dinding rumah dengan menggunakan cat semprot. Tujuannya, agar warga yang menerima bantuan PKH dan BPNT tersebut memang benar-benar layak dan tidak salah sasaran.

Penerima PKH, Masnah mengaku terpaksa mengundurkan diri dari penerima bansos karena malu dianggap sebagai warga miskin. “Anak saya yang di Jakarta tidak boleh, katanya malu. Wong tiap bulan juga ngasih duit. Katanya buat yang lain saja,” kata Masnah, Kamis (11/7/2019).

BACA JUGA: Tangani Fakir Miskin Perdesaan, Kemensos Evaluasi Bantuan Sosial

Masnah mengaku sebelumnya pernah menerima bansos dari pemerintah tepatnya pada era pemerintahan Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY). “Ya, pernah dapat BLT yang Rp100.000,” ucapnya.

Petugas TKSK Kecamatan Lebaksiu, Chusni Ahmad mengatakan, ada 30 warga di Desa Balaradin yang mengundurkan diri sebagai penerima PKH dan BPNT. Sedangkan jumlah total warga yang menolak menerima bansos di Kecamatan Lebaksiu sebanyak 400 jiwa.  

“Dari hasil verifikasi, beberapa warga yang menyatakan mengundurkan diri mengaku pendapatan ekonomi keluarga sudah meningkat. Sedangkan sebagian lagi sebenarnya masih layak mendapatkan bantuan, namun karena malu mereka justru memilih mengundurkan diri,” paparnya.

Dia menambahkan, jumlah penerima bantuan PKH dan BPNT di Kecamatan Lebaksiu sebanyak 5.319 orang. Sedangkan untuk tingkat Kabupaten Tegal sebanyak 80.000 orang. Data penerima bantuan PKH dan BPNT tersebut berdasarkan pendataan pada tahun 2012.

Data tersebut diverifikasi oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2015 karena pendataan berdasarkan data lama, sehingga perlu diverifikasi ulang.

“Bagi warga yang menyatakan mengundurkan diri, petugas akan membuat laporan kepada Kementrian Sosial agar bisa digantikan warga lain yang layak untuk mendapatkan bantuan,” katanya.

Penjabat Kepala Desa Balaradin, Suparto membenarkan jika sebagian warganya yang masih layak mendapat bantuan PKH dan BPNT mengundurkan diri dengan alasan malu.


Editor : Kastolani Marzuki