Mempelajari Budaya Kudus Melalui Jejak dan Peninggalan Batik

Diaz Abraham ยท Selasa, 12 Februari 2019 - 09:47 WIB
Mempelajari Budaya Kudus Melalui Jejak dan Peninggalan Batik

Presiden Direktur PT Nojorono, Stefanus JJ Batihalim. (Foto-foto: Istimewa)

KUDUS, iNews.id – Kudus adalah kota yang punya segudang cerita dan kekhasan sendiri. Kota yang berada di Jawa Tengah ini dikenal memiliki makanan lezat seperti soto kudus, di samping cerita-cerita sejarah dan budayanya yang mengunggah.

Agar kebudayaan daerah tersebut makin lestari, PT Nojorono mempersembahkan acara corporate gathering dalam memperingati Hari Imlek 2570 di Kelenteng Hok Hien Bio milik Yayasan Tri Dharma Amurva Bhumi, Kudus, Sabtu (09/02/19) lalu. Acara bertajuk edukasi budaya itu mengangkat tema “Mutiara Nusantara” agar masyarakat di sana makin mengenal kearifan lokal sendiri.

“Lewat acara ini, PT Nojorono ingin menularkan kebahagiaan, kesama-rataan, dan keharmonisan akan bermasyarakat dengan semangat yang tak pernah berhenti dalam mewadahi serta mendukung program sosial miliknya,” ungkap Presiden Direktur PT Nojorono, Stefanus JJ Batihalim.

Dia mengungkapkan, acara tersebut diharapkan dapat membawa para tamu masuk dalam lorong budaya. Dengan begitu, hadirin dapat merasakan cita rasa akan karya nusantara yang dibalut dengan suguhan menarik dari berbagai karya peninggalan leluhur.

Disamping itu, pada 2019 ini, PT Nojorono berharap dapat lebih berinovasi tidak hanya pada edukasi budaya saja. Tetapi juga dapat melahirkan para penerus bangsa yang akan melanjutkan pelestarian budaya maupun kemajuan pendidikan bagi Kota Kudus, khususnya dengan program CSR (tanggung jawab sosial perusahaan) yang akan rutin dilaksanakan setiap tahun.

Beberapa pejabat daerah turut hadir dalam acara pada akhir pekan lalu, antara lain Bupati Kota Kudus Muhammad Tamzil, Kapolres Kota Kudus AKBP Saptono, serta jajaran pejabat daerah lainnya. Gelaran tersebut diawali dengan drama teatrikal dari Teater Jangkar Bumi yang mengangkat judul “Manunggal”, sebagai awalan yang epik dari sinopsis yang disajikan untuk menggambarkan keindahan Indonesia dalam satu kebinekaan kepada para tamu.


Pakar Antropologi dan pengamat batik, Notty J Mahdi, hadir sebagai pembicara dalam _talk show_ yang mengangkat topik "Pengaruh Budaya Peranakan pada Gaya Hidup Pesisir Utara Jawa: Kudus". Dalam kesemepatan itu, Mahdi memberikan beberapa presentasi akan perjalanan budaya Kudus dengan format bincang Budaya.

Mahdi mengulas lengkap tentang perjalanan budaya peranakan (tionghoa) di tanah Jawa sejak beberapa abad lalu. lebih lanjut, dirinya juga memaparkan soal berbagai peninggalan budaya baik cipta, rasa, dan karsa yang sudah ada hingga saat ini yakni batik melalui peragaan busana hingga jajanan kuliner tradisional.

“Acara ini bisa menjadi jembatan edukasi para pemuda Indonesia yang nyatanya budaya peranakan telah ada sejak dulu, ini merupakan simbol kebinekaan nusantara yang berharga karena apa saja yang sudah kita nikmati adalah tidak luput dari kontribusi besar akan suatu akulturasi budaya nenek moyang kita terdahulu,” ujarnya.

Acara juga dimeriahkan oleh penampilan penyanyi Mandarin, Alena Wu, dengan membawakan beberapa lagu yang mencairkan suasana. Alena Wu berhasil mengajak hadirin untuk ikut bernyanyi selama acara berlangsung.

Penampilan barongsai serta liong oleh FOBI dan Satya Dharma Kudus menjadi penampilan pamungkas di acara itu. Penonton serta para undangan pejabat daerah menyaksikan atraksi ikonik mereka dengan decak kagum. Angpao dan sapaan bagi penonton pun sontak menjadi bagian yang juga dinanti-nantikan dari pesta budaya hari itu.


Editor : Ahmad Islamy Jamil