Meriahnya Perang Tomat Ratusan Warga Lereng Gunung Slamet Purbalingga

Catur Edi Purwanto ยท Sabtu, 13 Oktober 2018 - 14:18 WIB
Meriahnya Perang Tomat Ratusan Warga Lereng Gunung Slamet Purbalingga

Warga Desa Serang, Purbalingga, usai mengikuti gelaran atraksi tradisi perang tomat. (Foto: iNews/Catur Edi Purwanto)

PURBALINGGA, iNews.id – Ratusan warga di Lereng Gunung Slamet, Purbalingga, Jawa Tengah (Jateng) menggelar tradisi tawur buah atau perang tomat, Sabtu (13/10/2018). Acara ini sekaligus menjadi ajang untuk mengenalkan potensi pertanian andalan masyarakat setempat yang bermata pencaharian sebagai petani.

Perang tomat ini diikuti petani dan warga desa setempat. Acara ini juga menjadi rangkaian kegiatan Festival Gunung Slamet 2018 yang berlangsung di rest area wisata buah Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Purbalingga.

Pantauan iNews, kemeriahan tampak dalam gelaran perang tomat tersebut. Warga yang menjadi peserta dibagi menjadi dua kelompok untuk saling melempar buah tomat disertai canda tawa dan riuh penonton.

Buah tomat yang digunakan sebagai senjata untuk saling lempar bukan yang ranum. Namun yang sudah mendekati busuk sehingga tidak ada pemborosan. Selain itu, peserta yang ikut pun tak terlalu merasakan sakit jika terkena lemparan karena buahnya yang sudah lembek.

Plt Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi mengatakan, buah tomat merupakan hasil agro andalan petani Desa Serang. Tawur buah ini menjadi ajang promosi mengenalkan potensi pertanian di Lereng Gunung Slamet sebagai sentra penghasil buah dan sayuran.

“Ini juga sebagai wujud rasa syukur petani atas berkah tanah yang subur dan hasil panen yang melimpah. Apalagi ini juga atraksi wisata yang unik dan belum cukup banyak ada di Indonesia,” kata Dyah, Sabtu (13/10/2018).

Dalam perang tomat ini, kebanyakan pesertanya yakni kalangan petani dan anak-anak muda. Mereka sangat antusias mengikuti tradisi dan tetap ceria meski pun beresiko terkena lemparan buah strawberry dan tomat. Panitia menyediakan sedikitnya 15 kuintal buah tomat untuk dipergunakan peserta sebagai amunisi tawur buah tersebut.


Editor : Donald Karouw