Ratusan Siswa di Pekalongan Belajar dengan Ruang Kelas Terendam Banjir

Suryono ยท Rabu, 17 Januari 2018 - 09:52 WIB
Ratusan Siswa di Pekalongan Belajar dengan Ruang Kelas Terendam Banjir

Siswa dan guru di SMPN 3 Tirto Pekalongan yang menjalani proses belajar mengajar di atas genangan air. (Foto: iNews/Suryono)

PEKALONGAN, iNews.id – Ratusan siswa SMPN 3 Tirto Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah (Jateng) harus belajar dengan banjir merendam ruang kelas, Rabu (17/1/2018) pagi. Kondisi itu lantaran banjir air pasang yang sudah melanda sejumlah wilayah di Pekalongan belum surut, sejak Senin 15 Januari 2018 lalu.

Pantauan iNews, ruangan kelas terendam banjir sekitar setengah meter, namun siswa tetap masuk dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Siswa terlihat terganggu dan kesulitan karena ada genangan air dalam ruangan kelas. Mereka tak lagi menggunakan alas kaki, bahkan guru pengajar pun harus memakai sepatu boots saat mengajar.

Di sekolah itu, ada sebanyak 285 siswa mulai dari kelas VII, kelas VIII dan kelas IX. Beberapa ruang kelas bahkan terendam air hampir setinggi kursi duduk, sehingga siswa harus mengangkat kaki saat proses belajar mengajar.

"Kami tetap semangat belajar dan mengikuti pelajaran seperti biasa. Namun tingginya genangan air tetap mengganggu. Kami juga sering sakit perut serta pusing karena terendam air," ujar Mita,  siswa kelas 9.

Kepala SMP N 3 Tirto Pekalongan, Nuriko Candra Khaerani mengatakan, bagian yang terendam banjir yakni seluruh ruangan ruang kantor, ruang perpustakaan, ruang kelas dan juga Mushola. Ada sebanyak sepuluh ruangan yang tergenang air hingga hampir setengah meter.

"Sekolah tetap menjalankan kegiatan belajar mengajar seperti biasa walau ruangan kelas banjir. Siswa tetap semangat belajar, terbukti tingkat kehadiran siswa sangat tinggi, hanya 11 siswa yang tidak masuk," kata Nuriko.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pekalongan Sumarwati mengatakan, ada sebanyak sepuluh sekolah yang terdampak banjir air pasang, yakni tiga SMP dan tujuh SD. Namun seluruh sekolah tetap melaksanakan kegiatan belajar mengajar.

“Beberapa sekolah sudah kami anggarakan untuk perbaikan dan melaporkan ke pusat agar bisa menjadi perhatian,” kata Sumarwati.


Editor : Donald Karouw