Relokasi Industri Jabodetabek ke Jateng Pacu Pertumbuhan Ekonomi

Antara, Kastolani ยท Selasa, 27 November 2018 - 21:59 WIB
Relokasi Industri Jabodetabek ke Jateng Pacu Pertumbuhan Ekonomi

Sejumlah pekerja garmen menyelesaikan proses finishing pembuatan celana jins. Banyaknya industri Jabodetabek yang pindah ke Jateng mendongkrak perekonomian di provinsi ini. (Foto: istimewa)

SEMARANG, iNews.id – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah diuntungkan dengan relokasi industri dari wilayah Jabodetabek akibat tingginya upah buruh di kawasan tersebut. Relokasi industri itu mampu memacu pertumbuhan ekonomi Jateng.

Sekretaris Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (F-PKB) DPRD Jawa Tengah, Nur Sa'adah mengatakan, sektor perekonomian terjadi peningkatan. Pada 2017 lalu, pertumbuhan ekonomi sebesar 5,27 persen dan sampai Triwulan III tahun 2018 tumbuh sebesar 5,25 persen. "Ini lebih tinggi dibandingkan nasional sebesar 5,17 persen," ujarnya, Selasa (27/11/2018).

Dia menerangkan, stabilnya perekonomian di Jawa Tengah tidak lain meningkatnya investasi melalui perbaikan kebijakan kemudahan berusaha dan terkendalinya laju inflasi. Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2019 kisaran 5,4– 5,8 persen dengan laju inflasi 4 + 1 persen. "Artinya, para investor berbondong-bondong ke Jawa Tengah karena tertarik dengan tingkat upah rendah," katanya.

Jika hanya ini yang menjadi penyebabnya, kata Nur Sa'adah, pertumbuhan ekonomi tidak memacu peningkatan taraf kesejahateraan masyarakat. "Masyarakat hanya bertahan hidup menjadi buruh dengan upah rendah," katanya.

BACA JUGA:

Banyak Serap Tenaga Kerja, UMKM Perlu Perhatian Penuh Pemerintah

Hadapi Ketidakpastian Global, Pemerintah Perkuat Investasi Langsung

Atas dasar itu, kata dia, F-PKB meminta Pemprov Jateng untuk bisa menjaga kualitas pertumbuhan ekonomi dengan beriringan dengan prinsip keadilan sosial.

Nur Sa'adah menambahkan, naik turunnya persentase kemiskinan menjadi salah satu indikator penting sukses tidaknya program pemerintah. Jumlah kemiskinan di Jawa Tengah periode September 2017 sebanyak 4,20 juta jiwa (12,23 persen) turun pada periode Maret 2018 menjadi 3,90 juta jiwa (11,32 persen).

"Penurunan persentase atau jumlah kemiskinan di Jawa Tengah patut diapresiasi namun juga perlu dikritisi. Banyak kasus di desa-desa, orang-orang miskin dimasukkan ke katagori mampu karena adanya keengganan aparatur mengakui kondisi yang sebenarnya. Ada perasaaan malu jika di desanya banyak warga yang miskin," katanya.

Mengenai target pemerintah untuk menurunkan tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada 2019, pada kisaran 4,33-4,37 persen, menurut dia, hal ini bukan sesuatu hal yang mustahil.

Sejauh ini, kata dia, TPT terjadi pengurangan sebanyak, dimana sudah menurun pada angka 0,81 juta jiwa (4,51 persen). "Melalui perluasan dan pengembangan kesempatan bekerja serta peningkatan kualitas dan kompetensi tenaga kerja, tentu semua yakin bisa terus turun," tandasnya.

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi di Jateng semakin berkualitas dengan capaian sebesar 5,54 persen. "Capaian di atas rata-rata nasional," katanya.

Wagub menjelaskan bahwa Pemprov Jateng melakukan beberapa strategi untuk menjaga kualitas pertumbuhan ekonomi. Strategi yang dilakukan itu antara lain, dengan pembangunan infrastruktur pendukung pengembangan kewilayahan, peningkatan realiasasi investasi industri padat karya berorientasi ekspor, mendorong pengembangan kawasan industri, peningkatan serapan kredit perbankan untuk produksi, dan investasi.

Selain itu, menjaga tingkat upah minimum regional tenaga kerja Jateng yang kompetitif dan peningkatan kualitas sumber daya manusia pelaku usaha mikro dan kecil, meningkatkan kemampuan daya beli masyarakat, serta menjaga iklim usaha yang kondusif.

Menurut dia, stabilnya perekonomian di Jateng karena meningkatnya investasi melalui perbaikan kebijakan kemudahan berusaha dan terkendalinya laju inflasi.


Editor : Kastolani Marzuki