Status Gunung Slamet Waspada dan Potensi Erupsi, Ini Rekomendasi PVMBG

Suryono, Antara ยท Jumat, 09 Agustus 2019 - 16:37 WIB
Status Gunung Slamet Waspada dan Potensi Erupsi, Ini Rekomendasi PVMBG

Puncak Gunung Slamet tertutup kabut dilihat dari Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, Jateng. Saat ini, status Gunung Slamet naik menjadi Waspada. (Foto: iNews.id/Suryono)

BANDUNG, iNews.id - Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Kasbani mengimbau kepada pendaki agar tidak melakukan aktivitas wisata maupun upacara HUT ke-74 Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 2019 di puncak Gunung Slamet yang kini dalam status Waspada.

Gunung Slamet yang memiliki ketinggian 3.432 mdpl di Jawa Tengah itu dipastikan statusnya ditingkatkan dari semula Level 1 (Normal) menjadi Level 2 (Waspada) sejak tanggal 9 Agustus pukul 09.00 WIB.

"Jadi rekomendasi tidak ada aktivitas atau pendakian di radius 2 kilometer dari kawah karena ada potensi erupsi," kata Kasbani di Kantor PVMBG, Kota Bandung, Jumat (9/8/2019).

Kasbani mengatakan, peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Slamet dapat berpotensi menyebabkan erupsi tanpa terprediksi secara pasti.

Meski demikian, kata dia, PVMBG akan terus menginformasikan kepada masyarakat setiap peningkatan aktivitas yang terjadi. "Apalagi ini kan ada 17 Agustus itu ada upacara jangan sampai naik di atas wilayah 2 kilometer dari kawah," kata dia.

BACA JUGA:

Gunung Slamet Naik Status Level II Waspada, Radius Aman 2 Km dari Kawah Puncak

Status Gunung Slamet Waspada, Jalur Pendakian Ditutup

Menurutnya, pemantauan aktivitas Gunung Slamet telah dilakukan secara baik. Pos pemantauan yang berada pada radius 8,5 kilometer dari puncak, telah memiliki peralatan yang lengkap.

Berdasarkan hasil pemantauan dari bulan Juni hingga tanggal 8 Agustus, diketahui Gunung Slamet yang berada di perbatasan lima kabupaten yakni, Tegal, Pemalang, Brebes, Banyumas, dan Purbalingga, Jawa Tengah mengeluarkan asap kawah berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal dan memiliki ketinggian maksimum 300 meter dari atas puncak.

Selain itu, PVMBG mencatat telah terjadi 51.511 kali gempa hembusan, 5 kali gempa tektonik lokal, dan 17 kali gempa tektonik jauh. Sedangkan tremor atau gerakan seismograf masih terus berlangsung yang berada pada amplitudo 0,5 hingga 2 milimeter.

"Kami punya pos di sana yang jaraknya 8,5 kilometer dari puncak dan peralatan yang relatif komplit untuk peralatan sistem monitoringnya. Jadi untuk gunung ini relatif terpantau dengan baik," kata dia.

Kasbani juga menjelaskan erupsi yang berpotensi terjadi di Gunung Slamet adalah erupsi magmatik. Erupsi magmatik tercatat terakhir kali terjadi yakni lima tahun lalu atau tepatnya pada tahun 2014.

Kemudian ada pula potensi erupsi freatik terjadi dengan ditandai uap air sedangkan erupsi magmatik ditandai dengan keluarnya magma. Erupsi magmatik, kata dia, dapat diinisiasi atau diawali dengan erupsi freatik.

"Untuk peletusan Gunung Slamet ini umumnya magmatik bisa juga dia diawali dengan freatik, tapi pada umumnya adalah magmatik dan gunung ini erupsi terakhir pada lima tahun yang lalu itu," kata dia.

Sementara itu, aktivitas masyarakat di Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang yang berjarak sekitar 7 km dari puncak Gunung Slamet masih terlihat normal.

Kapolsek Pulosari, AKP Trisno mengatakan, jajarannya terus memantau dan selalu bekerja sama dengan PVMBG, serta pos pengamatan Gunung Slamet di Pulosari, Pemalang untuk mengetahui situasi gunung tersebut.


Editor : Kastolani Marzuki