Status Gunung Slamet Waspada, PVMBG: Ada 51.511 Kali Gempa Hembusan

Suryono, Antara ยท Jumat, 09 Agustus 2019 - 17:56 WIB
Status Gunung Slamet Waspada, PVMBG: Ada 51.511 Kali Gempa Hembusan

Petugas pos pengamatan Gunung Slamet di Pulosari, Pemalang mencatat aktivitas kegempaan gunung tersebut. (Foto: iNews.id/Suryono)

BANDUNG, iNews.id  - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menaikkan status Gunung Slamet di perbatasan lima kabupaten di Jawa Tengah naik dari aktif Normal (level I) ke level II (Waspada), Jumat (9/8/2019) pukul 09.00 WIB.

Peningkatan status itu karena berdasarkan hasil pemantauan dari bulan Juni hingga tanggal 8 Agustus, diketahui Gunung Slamet mengeluarkan asap kawah berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal dan memiliki ketinggian maksimum 300 meter dari atas puncak.

Selain itu, PVBG mencatat telah terjadi 51.511 kali gempa hembusan, 5 kali gempa tektonik lokal, dan 17 kali gempa tektonik jauh. Sedangkan tremor atau gerakan seismograf masih terus berlangsung yang berada pada amplitudo 0,5 hingga 2 milimeter.

"Kami punya pos di sana yang jaraknya 8,5 kilometer dari puncak dan peralatan yang relatif komplit untuk peralatan sistem monitoringnya. Jadi untuk gunung ini relatif terpantau dengan baik," kata Kepala PVMBG Kasbani.

Menurutnya, pemantauan aktivitas Gunung Slamet telah dilakukan secara baik. Pos pemantauan yang berada pada radius 8,5 kilometer dari puncak, telah memiliki peralatan yang lengkap.

Kasbani mengatakan peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Slamet dapat berpotensi menyebabkan erupsi tanpa terprediksi secara pasti.

Meski demikian, dia mengatakan pihaknya akan terus menginformasikan kepada masyarakat setiap peningkatan aktivitas yang terjadi. "Apalagi ini kan ada 17 Agustus itu ada upacara jangan sampai naik di atas wilayah 2 kilometer dari kawah," kata dia.

BACA JUGA:

Status Gunung Slamet Waspada dan Potensi Erupsi, Ini Rekomendasi PVMBG

Gunung Slamet Naik Status Level II Waspada, Radius Aman 2 Km dari Kawah Puncak

Status Gunung Slamet Waspada, Jalur Pendakian Ditutup

Dia, menjelaskan erupsi yang berpotensi terjadi di Gunung Slamet adalah erupsi magmatik. Erupsi magmatik tercatat terakhir kali terjadi yakni lima tahun lalu atau tepatnya pada tahun 2014.

Kemudian ada pula potensi erupsi freatik terjadi dengan ditandai uap air sedangkan erupsi magmatik ditandai dengan keluarnya magma. Erupsi magmatik, kata dia, dapat diinisiasi atau diawali dengan erupsi freatik.

"Untuk peletusan Gunung Slamet ini umumnya magmatik bisa juga dia diawali dengan freatik, tapi pada umumnya adalah magmatik dan gunung ini erupsi terakhir pada lima tahun yang lalu itu," kata dia.

Terkait hal itu, Kasbani mengimbau kepada pendaki agar tidak melakukan aktivitas wisata maupun upacara HUT ke-74 Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 2019 di puncak Gunung Slamet yang kini dalam status Waspada.

"Jadi rekomendasi tidak ada aktivitas atau pendakian di radius 2 kilometer dari kawah karena ada potensi erupsi," kata Kasbani.

Petugas pos pengamatan Gunung Slamet, Sukedi menyebutkan, aktivitas gunung terlihat meningkat terdeteksi dari alat seismograf yang berada di pos pemantau. “Dari catatan petugas pengamatan, hari ini ada sebanyak 869 gempa tremors  dengan amplutudo 0,5 sampai 1,” katanya di Pos Gambuhan, Pulosari, Pemalang.


Editor : Kastolani Marzuki