Tak Ada yang Mencari Nafkah, Siswi Ini Berkeliling Kampung Jualan Jamu

Suryono ยท Senin, 29 Januari 2018 - 21:42 WIB
Tak Ada yang Mencari Nafkah, Siswi Ini Berkeliling Kampung Jualan Jamu

Opi siswi penjual jamu menggantikan ibunya yang mengeluh sakit di kakinya. (Foto:iNews/Suryono)

PEKALANGON, iNews.id - Ketika kebanyakan anak seusianya banyak menghabiskan waktu luang untuk bermain, maka tidak bagi Opi Wendasari. Siswi kelas 12 Madrasah Aliyah Hifal Pekalongan, Jawa Tengah (Jateng) itu justru menggunakan waktu luang untuk membantu orang tua menjual jamu.

Hidup hanya berdua dengan sang ibu, Rubiyem, gadis cantik itu tak keberatan menjajakan jamu keliling kampung menggunakan sepeda ontel butut. Opi menggantikan peran Rubiyem yang belakangan mengeluh sakit di kakinya.

Tak hanya menjual jamu, Opi benar-benar menggantikan peran ibunya mulai dari menumbuk dan mengemas jamu ke dalam botol. Dia sudah membuaka mata sejak pukul 03:00 hingga 06:00 pagi.

Setelah semua siap, Opi segera berpamitan dengan ibunya untuk mulai keliling kampung menjual jamu buatannya. Sifat mandiri Opi sudah muncul sejak berumur tiga tahun atau saat kedua orang tuanya memilih untuk berpisah. Bahkan sejak kecil Opi membantu orang tuanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan menjual makanan kecil di sekolah.

Beras kencur, empu kunir, gula asem, suruh, pahit, sambiroto dan jamu siap sedu adalah aneka macam jamu yang didagangkan. Tidak hanya di sekitar kampung, Opi berkeliling menawarkan jamu hingga ke pasar.

Membawa muatan jamu yang masih penuh, tampak terasa berat saat dikayuh. Belum lagi sepeda ontel yang tanpa penyangga membuat Opi kesulitan saat melayani pembeli. Menyiasatinya, Opi menahan sepedayang bertumpu pada pinggulnya.

Melihat semangat Opi membantu orang tuanya, banyak pelanggan jamu yang baik kepadanya. Bahkan tak hanya di rumah, seluruh pelanggan hingga di Pasar Banyurip, Pekalangon mengaku senang dengan jamu buatan gadis yang bercita-cita sebagai pramugari itu.

"Sering beli, berlangganan. Enak jamunya seger, salut anak perempuan seperti Opi mau berjualan jamu," ucap Ina salah satu pelanggan yang berada di sekitar rumahnya.

Rubiyem mengatakan, jualan jamu keliling merupakan kemauan Opi dan tidak pernah memaksa. Menurutnya, Opi merasa kasihan dengan orang tuanya dan berinisiatif menggantikan posisinya berjualan jamu keliling.

Diketahui, Rubiyem telah berjualan jamu hampir 25 tahun di Pekalongan. Resep yang turun menurun dari nenek moyangnya di Solo, Jateng tetap dipertahankan. Tidak banyak penghasilan yang didapat Opi dari berjualan jamu keliling dengan rata-rata Rp80.000 hingga Rp90.000. Penghasilan itu sebagian digunakannya untuk kembali membeli bahan baku dan untuk makan sehari-hari.

"Mama sakit kakinya tidak bisa ditekuk. Sempat sembuh tapi baru empat hari kumat lagi. Jadi waktu itu Dikasih tahu pelanggan mama sakit. Aku samperin ternyata kakinya sakit lagi. Ya sudah mama aku antar balik (pulang) dan aku jualan jamu. Sehari Rp80.000-Rp90.000 tergantung cuaca. Kadang sampai habis kadang tidak," kata Opi.

Tidak hanya berjualan jamu, Opi juga berjualan sosis bakar dan jajanan lainnya di sekolah. Semangat kerja yang dilakukan Opi semata-mata karena tidak ada yang menyari nafkah semenjak ayah kandungnya pergi tanpa alasan.

"Orangnya (Opi) baik, sayang sama orang tua mau membantu. Katanya, mama di rumah saja Opi yang dagang jamu bantuin," kata Rubiyem menilai semangat kerja Opi.


Editor : Achmad Syukron Fadillah