Warga Palembang Ini Tolak Hadiah Sepeda dari Presiden Jokowi

Suryono ยท Senin, 15 Januari 2018 - 18:41 WIB
Warga Palembang Ini Tolak Hadiah Sepeda dari Presiden Jokowi

Presiden Jokowi menyalami salah satu peserta muktamar Ahlith Thoriqoh Al Mu'tabaroh An Nahdliyah di Pekalongan, Jateng. (Foto: iNews.id/Suryono)

PEKALONGAN, iNews.id – Ada peristiwa menarik saat pembukaan Muktamar XII Jamiyah Ahlith Thoriqoh Al Mu’tabaroh An Nahdliyah (Jatman) dan Halaqoh Ulama Thoriqoh II di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, Senin (15/1/2018).

Salah seorang peserta muktamar menolak diberi hadiah sepeda oleh Presiden Joko Widodo. Ulah peserta bernama Afdal itu pun membuat Jokowi heran dan mengundang tawa dari para peserta muktamar lainnya. Hadiah sepeda lazim diberikan Jokowi di setiap kunjungan kerja ke daerah. Seperti biasa, Presiden Jokowi selalu memberikan pertanyaan kepada salah seorang hadirin pada acara tersebut.

Afdal, peserta muktamar asal Palembang itu kemudian dipersilakan maju untuk menghafal Pancasila. Awalnya, suara Afdal kurang lantang dan tegas. Dia pun diminta presiden untuk mengucapkan dengan keras dan tegas.

Setelah lancar menghafal Pancasila, dia lalu meminta hadiah kepada Presiden Jokowi. Permintaan pun disanggupi Jokowi dengan berjanji bahwa sepedanya akan diantar ke rumah.

Namun hadiah dari presiden itu tak sesuai keinginan Afdal, karena di rumahnya sudah punya dua sepeda. Penolakan hadiah ini tentu mengagetkan presiden. “Sepanjang berinteraksi dengan masyarakat baru kali ini ada warga yang enggak mau dikasih sepeda,” kata Jokowi disambut gelak tawa dari peserta muktamar.

BACA JUGA: Presiden Jokowi Minta Jamaiyah Jaga Keutuhan NKRI

Jokowi kemudian menawarkan permintaan yang diinginkan peserta muktamar ini.
Afdal lalu meminta hadiah selain sepeda. “Yang penting bukan sepeda Pak Presiden, seikhlasnya saja,” ucapnya.

Presiden pun meminta saran ke Habib Luthfi untuk memberikan hadiah apa yang cocok bagi Afdal. Namun, Jokowi hanya berjanji nanti hadiahnya sampai di rumah dan meminta Afdal kembali duduk di tempatnya semula.

Saat membuka muktamar tersebut, Presiden Joko Widodo mengajak jamaiyah untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Pancasila, Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, dan Bhinneka Tunggal sebagi tali pengikat keberagaman di Indonesia.

Presiden mengingatkan pada rakyat Indonesia yang hidup dalam keberagaman dengan keberadaan 714 suku, beragam agama, dan memiliki 1.100 bahasa lokal yang berbeda-beda merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Esa yang harus dijaga dan diperkuat bersama.


Editor : Kastolani Marzuki