Keluarga Pelaku Bom Bunuh Diri Puji Kuswati di Magetan Menolak Ditemui

Asfi Manar · Selasa, 15 Mei 2018 - 22:27 WIB
Keluarga Pelaku Bom Bunuh Diri Puji Kuswati di Magetan Menolak Ditemui

Rumah keluarga Puji Kuswati, pelaku bom bunuh diri di Desa Krajan, Magetan, Jatim terlihat sepi. (Foto: iNews.id)

MAGETAN, iNews.id – Aksi keji Puji Kuswati yang mengajak keempat anaknya untuk melakukan bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur mengagetkan semua pihak.

Tak terkecuali warga Magetan. Ya, salah satu pelaku bom bunuh diri itu sejak kecil hingga remaja tinggal di Desa Krajan, Kecamatan Parang, Kabupaten Magetan. Mereka tak menyangka jika salah satu warga desanya nekat melakukan aksi bom bunuh diri bersama suami dan keempat anaknya.

Sejak identitas Puji Kuswati bersama suaminya, Dita Oepriarto, dan empat anaknya terungkap sebagai pelaku bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya pada Minggu (13/5/2018), keluarganya yang tinggal di Desa Krajan menutup diri dan menolak ditemui awak media.

Di rumah Rijan (80) pelaku bom bunuh diri di Gereja Jawi Wetan Surabaya itu menghabiskan masa kecilnya hingga remaja. Rumah yang cukup sederhana ini kini dihuni Rijan dan salah satu bibi Puji Kuswati.

BACA JUGA: Keluarga Pelaku Bom Bunuh Diri Dita Oepriarto Menutup Diri


Hanya sesekali, Puji bersama suami dan keempat anaknya pulang ke rumah itu untuk menjenguk neneknya. Rumah keluarga Puji Kuswati bahkan terlihat sepi dan tertutup. Tidak ada yang mencolok dalam rumah keluarga teroris keji itu, bahkan simbol-simbol agama juga tidak ditemukan di dalam rumah tersebut.

Menurut Ketua RW Desa Krajan, Sucipto, sejak usia 18 bulan, Puji Kuswati sudah berada di rumah itu dan tumbuh layaknya anak-anak desa lainnya sebelum akhirnya pindah ke Banyuwangi.

Dia mengatakan, perilaku Puji mulai berubah saat bersekolah di SMA Negeri 2 Magetan dengan mengenakan jilbab. “Anaknya tergolong cerdas dan ramah kepada warga,” ucapnya, Selasa (15/5/2018).

Kepala SMA Negeri 2 Magetan, Hari Amanto mengaku belum bisa memastikan apakah Puji Kuswati merupakan alumni SMA 2 atau bukan. “Saya baru mendengar kalau pelaku teroris itu pernah sekolah di sini (SMA 2). Sebab, harus dicek dulu dokumen dan data base-nya, apalagi dia katanya sekolah di sini pada 1990 an,” katanya.


Editor : Kastolani Marzuki