Delegasi UCLG Aspac Keliling ke Tempat Bersejarah di Surabaya

Ihya' Ulumuddin ยท Rabu, 12 September 2018 - 16:58 WIB
Delegasi UCLG Aspac Keliling ke Tempat Bersejarah di Surabaya

Sejumlah delegasi UCLG Aspac tampak antusias saat singgah di sejumlah destinasi pada acara keliling Surabaya, Rabu (12/9/2018). (Foto: iNews.id/Ihya' Ulumuddin)

SURABAYA, iNews.id – Peserta Kongres United Cities and Local Government (UCLG) Asia Pasific (Aspac) dari berbagai negara keliling ke sejumlah tempat bersejarah di Surabaya, Rabu (12/9/2018). Dua lokasi yang dikunjungi di antaranya Monumen Tugu Pahlawan dan Museum House of Sampoerna.

Para delegasi yang berangkat dari Gedung Convention Hall Dyandra terlebih dahulu singgah di Monumen Tugu Pahlawan. Selama perjalanan, rombongan dijelaskan berbagai macam infrastruktur modern maupun tradisional serta tata kelola kota yang ada di Kota Surabaya.

Setibanya di Monumen Tugu Pahlawan, rombongan diajak berkeliling untuk melihat sekaligus mengingat kembali rentetan cerita sejarah perjuangan pertempuran yang terjadi di Kota Pahlawan dan barang-barang di zaman perjuangan.

Perwakilan pemerintah asal Jerman, Ify (26), mengaku takjub dan tertarik melihat berbagai macam cerita serta koleksi sejarah yang ada di dalam museum. Baginya, tempat itu sangat bagus untuk generasi muda agar dapat mengingat dan mengenang jasa para pahlawannya.

“Pertama kali ke Surabaya dan saya sangat tertarik melihat benda-benda sejarah disini. Ini akan menjadi cerita saat pulang ke Jerman,” kata Ify di sela-sela acara, pada Rabu (12/9/2018).

Sekitar 45 menit mengitari seisi barang dan mendengar cerita sejarah perjuangan di Museum Tugu Pahlawan, beberapa delegasi melanjutkan perjalanan menuju House of Sampoerna. Tiba di sana, mereka disuguhkan senyum pegawai dan aroma kretek yang sudah melegenda di Kota Surabaya sejak tahun 1913.

Salah seorang petugas dengan cakap menjelaskan sejarah singkat museum dan silsilah keluarga Sampoerna kepada para delegasi. Beranjak ke lantai 2, rombongan tampak takjub dan antusias saat melihat pembuatan rokok Sigaret Kretek Tangan (STK) yang semuanya dikerjakan kaum hawa.

Bahkan, beberapa delegasi memberanikan diri untuk mempraktikkan cara pembuatan hingga pengemasan rokok kretek yang kini dihuni lebih dari 1.700 pekerja.

Perwakilan pemerintah dari Taiwan, Kan Chuan Lin (30), juga mengaku senang berkunjung ke dua lokasi bersejarah di Surbaya. Dia mendapat banyak pengetahuan dari kunjungan tersebut. “Dapat ilmu baru dan itu terlihat sangat indah,” ungkapnya.

Dia juga mengapresiasi jam kerja yang diterapkan di perusahaan Samporena. Pemberlakuan 7 jam kerja sesuai dengan aturan akan membuat pekerja merasa nyaman saat bekerja. “Itu peraturan yang manusiawi dan perlu diterapkan di beberapa negara yang masih mempekerjakan pekerjanya di atas 7 jam,” katanya.

Sesuai rencana, delegasi akan melanjutkan tur ke Jembatan Suroboyo, Kenjeran, malam harinya. Mereka akan melihat berbagai macam hiburan dan atraksi keindahan Jembatan Suroboyo yang diterangi gemerlap lampu warna-warni dan iringan musik jazz.


Editor : Maria Christina