Menteri Jonan Minta Daerah Bangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah

Ihya' Ulumuddin ยท Kamis, 13 September 2018 - 15:56 WIB
Menteri Jonan Minta Daerah Bangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah

Menteri ESDM Ignasius Jonan bersama Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dan Presiden UCLG Aspac Won Hee Ryong saat pembukaan kongres, Kamis (13/9/2018). (Foto: iNews.id/Ihya' Ulumuddin)

SURABAYA, iNews.id – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan meminta agar para kepala daerah bisa membangun pembangkit listrik tenaga sampah. Selain itu, daerah juga didorong untuk secepatnya membuat kebijakan yang mendukung kendaraan listrik.

Hal ini disampaikan Jonan saat membuka secara resmi Kongres United Cities and Local Government (UCLG) Asia Pasific (Aspac) di Gedung Dyandra Convention Hall, Surabaya, Rabu (12/9/2018). Pembukaan itu ditandai dengan pemukulan gong oleh Jonan didampingi Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, Presiden UCLG-Aspac Won Hee Ryong, dan beberapa kepala daerah.

"Saya berharap kepala daerah bisa membangun pembangkit listrik tenaga sampah. Di Surabaya sudah ada sejak lama, bahkan sebelum saja menjabat menteri ESDM,” kata Jonan di hadapan ratusan delegasi.

Ignasius Jonan mengatakan, pemerintah pusat dan pemerintah daerah memang harus bersinergi untuk memecahkan berbagai masalah di daerah masing-masing. Karena itu, berbagai daerah termasuk di DKI Jakarta diminta untuk membangun pembangkit listrik tenaga sampah. Bahkan, berbagai daerah di Indonesia juga didorong untuk secepatnya membuat kebijakan yang mendukung kendaraan listrik. “Ini bukan masa depan lagi, tapi harus dilakukan hari ini,” ujarnya.

Sementara Wali Kota Risma menyampaikan sambutan hangat kepada seluruh peserta kongres. Dia juga mengaku sangat senang hati menyambut kedatangan para tamu di Kota Surabaya. “Suatu kehormatan bagi kami untuk menyelenggarakan acara internasional ini dan saya berharap semua agenda berjalan dengan baik,” kata Risma.

Risma berharap kongres itu menjadi forum untuk saling belajar dan berbagi pengalaman satu daerah dengan daerah lainnya, terutama dalam mengatasi masalah perkotaan. Dia memastikan dalam dekade terakhir ini, masalah yang dihadapi oleh daerah atau negara hanya berkisar pada pengelolaan limbah, sanitasi, sistem drainase, transportasi, pendidikan, kesehatan, penyediaan perumahan, kemiskinan, pasokan air, dan perizinan.

Bahkan, saat ini berbagai negara harus menghadapi dampak perubahan iklim, termasuk bencana alam yang terjadi di beberapa daerah atau negara. Kondisi ini menuntut semua pihak untuk dapat bekerja sama dan berbagi pengetahuan serta pembelajaran bersama-sama.

“Tujuan akhirnya untuk memecahkan tantangan bersama dengan mempromosikan inovasi dalam mewujudkan kota yang berkelanjutan dan layak huni. Dalam hal ini, saya yakin UCLG Aspac dapat menjadi kerangka kerja yang tepat untuk memfasilitasi kebutuhan kita semuanya,” paparnya.

Risma juga memastikan bahwa selama ini Kota Surabaya sudah dipercaya untuk menyelenggarakan berbagai acara internasional, termasuk pertemuan UN Habitat 3 yang diikuti oleh ribuan delegasi dari 193 negara anggota PBB pada tahun 2016. Selanjutnya, ada pertemuan puncak Kota Ramah Anak yang diselenggarakan dengan UNICEF pada tahun 2018.

“Setelah Kongres UCLG Aspac ke-7 ini, Surabaya akan menjadi tuan rumah Startup Nations Summit (SNS) pada November 2018. Dengan hormat, saya mengundang anda semuanya datang lagi ke Surabaya pada bulan November mendatang untuk menghadiri KTT ini,” paparnya.

Sementara itu, Presiden UCLG Aspac Won Hee Ryong menyampaikan terima kasih banyak kepada Wali Kota Surabaya yang telah menyambut para peserta UCLG dengan ramah. Dia berharap kongres kali ini bisa menggali potensi dan perkembangan baru di Asia Pasifik. “Semoga mendapatkan kenangan indah selama di Surabaya,” katanya.

Dia menambahkan, tema yang diangkat dalam kongres, yakni pembangunan kota yang berkelanjutan, merupakan salah satu inti dari sebuah inovasi manusia.  Pemerintah lokal dan warganya harus selalu dekat untuk daerah yang berkelanjutan.


Editor : Maria Christina