UINSA Surabaya Kini Punya Pusat Studi Indonesia-China

Ihya' Ulumuddin ยท Selasa, 18 September 2018 - 17:46 WIB
UINSA Surabaya Kini Punya Pusat Studi Indonesia-China

Konsul Jenderal China di Surabaya, Gu Jingqi dan Wakil Rektor I UINSA Wahidah Zein menandatangani MoU pendirian pusat studi Indonesia-China, Selasa (18/9/2018). (Foto: iNews.id/Ihya' Ulumuddin)

Facebook Social Media Twitter Social Media Google+ Social Media Whatsapp Social Media

SURABAYA, iNews.id – Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya kini punya pusat studi Indonesia-China. Pusat studi di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UINSA itu diresmikan langsung Konsul Jenderal China di Surabaya, Gu Jingqi dan Wakil Rektor I UINSA Wahidah Zein, Selasa (18/9/2018).

Wakil Rektor 1 UINSA, Wahidah Zein menyebutkan, Pusat Studi Indonesia-China dibangun dengan berlandaskan tiga tujuan. Pertama, untuk menjadi wadah ajar dan diskusi ilmiah isu Indonesia-Tiongkok bagi mahasiswa, civitas akademik, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya. Kedua, untuk menjadi pusat studi yang melakukan kajian, riset, dan publikasi di Surabaya yang berfokus pada isu Indonesia-China.

Ketiga, untuk membangun jejaring berkelanjutan antara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Sunan Ampel Surabaya dengan Konsulat Jenderal China di Surabaya,” kata Wahidah.

Dekan I Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UINSA Abdul Chalik menambahkan, pusat studi Indonesia-China merupakan kelanjutan dari kerja sama yang telah beberapa tahun terbangun. “Beberapa tahun lalu sudah ada 20 mahasiswa China yang studi di UINSA. Harapan kami nanti giliran mahasiswa kami yang belajar ke China,” tuturnya.

Sementara Konsul Jenderal China Gu Jingqi mengapresiasi pembentukan pusat studi itu. Dia berharap fasilitas pendidikan tersebut semakin mempererat hubungan bilateral kedua negara dalam bidang pendidikan.

“Baru kali ini ada Research Center mengenai hubungan Indonesia dan Tiongkok dan saya di sini diperkenalkan oleh Pak Bambang sebagai Ketua Yayasan H Muhammad Cheng Ho dan Wakil Rektor UINSA. Kami turut mengapresiasi hal ini,” katanya setelah peresmian.

Menurut Gu Jingqi, era ini merupakan masa terbaik dalam sejarah hubungan Indonesia dan China. Ini mengingat Presiden Indonesia dan Presiden China sudah bertemu sebanyak enam kali. “Enam kali dalam tiga tahun, ini membuktikan betapa baiknya hubungan Tionghoa dan Indonesia,” tuturnya.

Sebagai perwakilan dari Konsulat Jenderal China di Surabaya, Gu Jingqi mengaku senang mendirikan pusat studi itu. Dia berharap tujuan pendirian pusat studi agar masyarakat Indonesia lebih mengenal budaya Tionghoa, bisa tercapai.

“Seperti yang saya katakan dalam peribahasa ‘Tak Kenal Maka Tak Sayang’, khususnya mahasiswa seluruh Universitas di Surabaya, agar mereka lebih kenal bahwa Tionghoa itu baik,” katanya.


Editor : Maria Christina