47 Rumah Dieksekusi di Banyuwangi, Puluhan Warga Tinggal di Tenda-Tenda dan Pos Kamling

Eris Utomo ยท Sabtu, 16 November 2019 - 18:19 WIB
47 Rumah Dieksekusi di Banyuwangi, Puluhan Warga Tinggal di Tenda-Tenda dan Pos Kamling

Sejumlah anak bermain di pos kamling yang dijadikan tempat tinggal sementara setelah rumah mereka dieksekusi di RT01 RW07 Kelurahan Tukangkayu, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi, Jatim, Sabtu (16/11/2019). (Foto: iNews/Eris Utomo)

BANYUWANGI, iNews.id – Sebanyak 47 rumah di Lingkungan Stendo RT 01 RW 07 Kelurahan Tukangkayu, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur (Jatim), dieksekusi.Akibatnya, puluhan warga kehilangan tempat tinggal dan masih bertahan di dekat reruntutan rumah mereka, Sabtu (16/11/2019).

Esekusi yang dilakukan pada Rabu (16/11/2019) lalu tersebut merupakan putusan Pengadilan Negeri (PN) Banyuwangi terhadap lahan seluas 2,4 hektare di Jalan Kepiting Kelurahan Tukangkayu, Kabupaten Banyuwangi. Eksekusi tersebut dilakukan setelah RM Suwoyo alias Gatot memenangkan gugatan terhadap Sutrino bin Suwono hingga ke Mahkamah Agung (MA).

Warga yang menghuni rumah di lahan yang bersengketa, sempat melakukan perlawanan saat eksekusi. Namun, eksekusi tetap berjalan. Sejak Rabu kemarin pula, sedikitnya 45 kepala keluarga (KK) kehilangan rumah.

 

BACA JUGA: 

Eksekusi Rumah Sengketa Anggota DPRD Banyuwangi Berujung Ricuh

Eksekusi Belasan Rumah di Proyek Waduk Bendo Diprotes Warga

 

Dari pantauan iNews, puluhan KK masih bertahan di lokasi reruntuhan bangunan. Mereka mendirikan tenda–tenda seadanya untuk tempat tinggal. Ada pula yang memanfaatkan pos kamling untuk tempat mereka tidur.

Sementara perabot rumah tangga seperti lemari, meja, kursi, dan perabot lainnya, masih dibiarkan begitu saja di halaman atau pelataran yang aman dari reruntuhan bangunan.

Mereka mengaku terpaksa bertahan di lokasi reruntuhan rumah mereka karena tidak memiliki uang. Mereka juga tidak tahu harus pindah dan tinggal di mana selain di lokasi itu, setelah eksekusi rumah. Sementara pekerjaan warga rata-rata buruh tidak tetap.

“Tolong lah, kami semua ini telantar di sini dan tidak punya uang. Untuk mindah barang aja tidak punya uang, terus terang saja,” kata salah satu warga, Rusmiati.

Warga yang rumahnya dieksekusi bertahan di dekat reruntuhan rumah dan mendirikan tenda di RT01 RW07 Kelurahan Tukangkayu, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi, Jatim, Sabtu (16/11/2019). (Foto: iNews/Eris Utomo)

 

Pascaeksekusi yang dilakukan pada Rabu lalu, sejumlah anak tidak bisa bersekolah karena trauma. Selain itu, banyak yang kehilangan pakaian seragam, sepatu, dan perlengkapan sekolah seperti tas, buku, karena tertimbun reruntuhan bangunan saat eksekusi. Mereka tidak sempat mengevakuasi.

“Kami punya anak-anak kecil, ini enggak ada yang sekolah tiga hari, seragam, tas, sepatu enggak ada karena enggak sempat dikeluarin,” kata Rusmiati.

Ketua RT Heri Supriyanto menunjukkan tenda yang didirikan warga setelah rumah mereka dieksekusi di RT01 RW07 Kelurahan Tukangkayu, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi, Jatim, Sabtu (16/11/2019). (Foto: iNews/Eris Utomo)

 

Ketua Rukun Tetangga (RT) setempat, Heri Supriyanto mengatakan, terdapat 45 kepala keluarga yang masih bertahan di sekitar rumah mereka yang telah rata dengan tanah.

“Keadaan seperti ini. Ada yang di poskamling dan di tenda, di sebelah sana janda-janda semua. Ya sehari-hari mereka enggak kerja karena di sini buruh semua,” kata Heri Supriyanto.

Reruntuhan rumah warga yang dieksekusi di kawasan RT01 RW07 Kelurahan Tukangkayu, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi, Jatim, Sabtu (16/11/2019). (Foto: iNews/Eris Utomo)

 

Warga berharap pemerintah daerah dapat membantu mereka memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Saat ini yang paling dibutuhkan warga tempat tinggal setelah rumah-rumah mereka dihancurkan.

Untuk diketahui, eksekusi tersebut sesuai dengan putusan MA tanggal 26 Agustus 1999 Nomor 2017 K/PDT/1996 jo putusan Pengadilan Tinggi Jawa Timur 30 Oktober 1995 No 419/PDT/1995/PT. Sby jo putusan Pengadilan Negeri tanggal 15 Desember 1994 Nomor 45/PDT. G/1994/PN.BWI.


Editor : Maria Christina