Akses Masuk Ditutup Pagar Tetangga, Ibu di Jember Terusir dari Rumahnya Sendiri

Bambang Sugiarto ยท Sabtu, 25 Mei 2019 - 18:52 WIB
Akses Masuk Ditutup Pagar Tetangga, Ibu di Jember Terusir dari Rumahnya Sendiri

Pagar besi setinggi lebih dari dua meter yang menutup akses masuk warga Jember ke rumahnya sendiri. (Foto: iNews/Bambang Sugiarto)

JEMBER, iNews.id – Seorang ibu bernama Senemah bersama putranya di Jember, Jawa Timur, terpaksa harus menginap di rumah kenalannya. Mereka sudah empat hari tak bisa pulang dan terusir dari rumahnya sendiri lantaran akses masuk ditutup pagar besi setinggi lebih dari dua meter.

Pagar itu digembok tetangganya Ali Mustofa. Di mana bangunan rumah Senemah dan Ali Mustofa di Jalan Imam Bonjol, Kelurahan Tegal Besar, Kecamatan Kaliwates, masih satu lahan.

Ditengarai, Ali memagari pagar tersebut lantaran memiliki sertifikat atas tanah tersebut. Sementara Senemah yang telah belasan tahun tinggal di atas lahan itu tak memilikinya.

Singkat cerita, Senemah mengatakan, awalnya almarhum suaminya membeli lahan dan membangun rumah di lokasi itu dari seorang warga bernama Sakur pada 2002. Dua tahun lalu, suaminya meninggal dan ternyata Sakur menjual kembali lahan itu kepada pembeli baru bernama Ali Mustofa.

Ali kemudian membangun lahan itu menjadi tempat kos dan memasang pagar besi. Keberadaan pagar itu membuat Senemah tak bisa masuk ke rumahnya, bahkan untuk sekadar mengambil pakaian.

“Sudah sejak Rabu (22/5) saya menginap di tempat majikan karena tidak bisa pulang ke rumah. Anak saya mau ambil baju dan seragam saja tidak bisa sampai harus meminjam punya teman,” ujar Senemah, Sabtu (25/5/2019).

Dia menceritakan, suaminya tipikal orang tak banyak berbicara. Jadi dia juga tak tahu soal surat-surat berharga menyangkut pembelian tanah rumahnya.

“Suami saya yang beli lahan ini dari pak Sakur. Saya juga sudah tidak tahu di mana surat jual belinya. Sudah saya cari tapi tak ketemu,” katanya.

Pernyataan Senenah ini dikuatkan keterangan warga setempat yang tahu jika rumah dan sebagian lahan itu milik mereka. Warga juga tahu jika pemilik awal bernama Sakur sudah menjualnya kepada almarhum suami Senemah.

Kuasa hukumnya Roni menyayangkan sikap yang ditunjukkan pemilik sertifikat rumah Ali Mustofa dengan menutup akses jalan dengan pagar besi. Padahal sejatinya, surat jual beli atas rumah dan tanah di areal rumah tersebut juga belum tentu dapat dibuktikan keabsahannya.

Apalagi Ali Mustofa juga telah membangunnya menjadi rumah kost dengan berdinding tembok besar yang ternyata tidak memiliki IMB.

“Masalah ini terjadi setelah suami Ibu Senemah meninggal. Pemilik lahan sebelumnya menjual lagi kepada Ali. Padahal Ali juga tahu, saat membeli lahan ini ada rumah ibu Senemah,” kata Roni.

Kendati demikian, Roni akan tetap mengupayakan jalan mediasi atas kasus ini. Dia masih berharap menemukan titik temu terbaik dan tidak merugikan kedua belah pihak.


Editor : Donald Karouw