Atasi Trauma Psikologis Shalfa, Khofifah: Menangkan Hatimu dengan Banyak Zikir

Ihya' Ulumuddin ยท Senin, 02 Desember 2019 - 23:30 WIB
Atasi Trauma Psikologis Shalfa, Khofifah: Menangkan Hatimu dengan Banyak Zikir

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa bertemu dengan Shalfa di Gedung Negara Grahadi, Senin (2/12/2019) sore. (Foto: iNews.id/Ihya' Ulumuddin)

SURABAYA, iNews.id - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyiapkan pendampingan psikososial bagi Shalfa Avrila Siani (17), atlet senam artistik yang dipulangkan dari pelatnas SEA Games.

Pendampingan psikosisal itu dilakukan untuk mengatasi trauma psikologis yang dialami Shalfa atas kasus yang dialaminya.

“Pesan saya kepada Shalfa adalah menangkan hatimu, ini bagian dari terapi psikososial karena hukuman sosial (social punishment) itu berat. Cara menenangkan hati antara lain dengan banyak berzikir. Saya juga sudah berkomunikasi dengan ketua KONI Jatim bahwa di Puslatda juga ada pendampingan psikologi bagi atlet sehingga terapi psikososial ini penting dilakukan," kata Khofifah seusai menerima kunjungan Shalfa beserta Ibu dan pengacaranya di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Senin (2/12/2019) sore.

BACA JUGA:

Desak Pelatih Senam Shalfa Minta Maaf, Khofifah: Kode Etik Harus Ditegakkan

Dituduh Tak Perawan, Atlet Senam SEA Games 2019 asal Kediri Dipulangkan Paksa

Selain pendampingan psikososial, kata Khofifah, Pemprov Jatim juga akan menyiapkan pendidikan lanjutan bagi Shalfa. Khofifah sudah menawarkan kepada Shalfa untuk melanjutkan sekolah sesuai pilihannya.

"Saya sudah komunikasikan dengan Wali Kota Kediri dan katanya ada salah satu SMA negeri yang akan menerima kepindahan sekolah Shalfa. Apalagi SMA kewenangannya ada di bawah pemprov, ini tinggal menunggu proses administrasi saja," katanya.

Terkait isu keperawanan yang menjadi penyebab dipulangkannya Shalfa, Khofifah menegaskan bila alasan itu benar disampaikan pelatih tersebut segera meminta maaf dan dilakukan pemanggilan khusus sampai dengan sanksi.

Dalam hal ini kode etik pelatih perlu ditelaah dan evaluasi kembali. Khofifah tidak ingin hal ini terulang dan menjadi trauma bagi atlet junior.

“Kita berharap segala sesuatu berjalan kondusif dan produktif. Harkat dan martabat atlet dan pelatih harus dijaga. Maka kode etik atlet dan pelatih harus di evaluasi jika dirasakan kurang sesuai sehingga semua pihak memiliki standar untuk dijadikan pedoman," katanya.


Editor : Kastolani Marzuki