Berbeda dengan MUI Jatim, Ini Hukum Salam Lintas Agama Menurut PWNU

Ihya' Ulumuddin ยท Selasa, 12 November 2019 - 17:13 WIB
Berbeda dengan MUI Jatim, Ini Hukum Salam Lintas Agama Menurut PWNU

PWNU Jawa Timur menyampaikan hasil bahtsul masail (Pembahasan hukum melalui kajian ushul fikih) tentang mengucapkan salam lintas agama, Selasa (12/11/2019). (Foto: iNews.id/Ihya Ulumuddin)

SURABAYA, iNews.id – Pengurus Wilayah Nadhlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur (Jatim) punya sikap berbeda dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim terkait ucapan salam lintas agama. Bagi PWNU, mengucapkan salam lintas agama diperbolehkan atau mubah untuk kepentingan kemaslahatan.

Katib Syuriah PWNU Jatim KH Syafrudin Syarif mengatakan, keputusan mengenai hukum mengucapkan salam tersebut diambil berdasarkan hasil pembahasan tim bahtsul masail, lembaga pengkajian masalah-masalah keagamaan. “Kami telah melakukan kajian mendalam secara ilmiah atas masalah ini. Hukum mengucapkan salam lintas agama diperbolehkan,” katanya, Selasa (12/11/2019).

Syarifudin menjelaskan, sebagai agama rahmatan lilalamin, Islam selalu menebarkan pesan-pesan kedamaian di tengah manusia, termasuk di antaranya menebarkan salam secara verbal. “Tradisi ini sudah ada sejak Nabi Adam yang terus diwarisi hingga sekarang,” ucapnya.

Dia mengungkapkan, tradisi tersebut juga berlanjut hingga zaman Nabi Ibrahim. Saat itu, Ibrahim mengucapkan salam kepada ayahnya yang belum bertauhid.

 

BACA JUGA:

MUI Jatim Serukan kepada Umat Islam agar Ucapan Salam Pembuka Semua Agama Tak Dicampur

MUI Jatim Larang Ucap Salam Semua Agama, Ini Respons Ketua MPR

 

“Nabi Muhammad SAW pun demikian. Dikisahkan, Nabi Muhammad pernah mengucapkan salam kepada penyembah berhala dan golongan Yahudi yang sedang berkumpul bersama kaum muslimin. Demikian pula sebagian generasi sahabat dan tabiin setelahnya,” katanya.

Syafrudin mengatakan, menebarkan salam sebagai pesan kedamaian telah menjadi tradisi universal manusia lintas adat, budaya dan agama. Bahkan, model caranya pun beragam, sesuai dengan dinamika zamannya.

“Maka, bagi pejabat muslim dianjurkan mengucapkan salam dengan kalimat Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, atau diikuti dengan ucapan salam nasional, seperti selamat pagi, salam sejahtera bagi kita semua dan semisalnya,” katanya.

“Namun demikian, dalam kondisi dan situasi tertentu demi menjaga persatuan bangsa dan menghindari perpecahan pejabat muslim juga diperbolehkan menambahkan salam lintas agama,” ujarnya.

Syafrudin menjelaskan, bahtsul masail tentang ucapan salam ini sengaja dilakukan karena persoalan tersebut telah menjadi polemik di masyarakat luas. Oleh karena itu, PWNU Jatim terpanggil untuk turut mencarikan solusi.

Diketahui, MUI Jatim mengeluarkan tausiah berkenaan dengan mengucapkan salam lintas agama. Lewat tausiah itu, MUI Jatim menyerukan kepada umat Islam, terutama pejabat publik untuk tidak mencampur salam berbagai agama. Alasannya, karena bisa merusak kemurnian akidah Islam.


Editor : Kastolani Marzuki