Demo di PN Surabaya, Korban Sipoa Minta Dalang Penipuan Dicekal

Ihya' Ulumuddin ยท Selasa, 02 Oktober 2018 - 18:21 WIB
Demo di PN Surabaya, Korban Sipoa Minta Dalang Penipuan Dicekal

Korban Apartemen Sipoa kembali mendatangi PN Surabaya menuntut penyelesaian hukum secara adil, Selasa (2/10/2018). (Foto: iNews.id/Ihya' Ulumuddin)

SURABAYA, iNews.id – Aksi unjuk rasa korban Apartemen Sipoa belum juga berhenti. Mereka kembali mendatangi Pengadilan Negeri (PN) Surabaya menuntut penyelesaian hukum secara adil bagi para korban, Selasa (2/10/2018). Mereka juga meminta para para dalang penipuan dicekal.

Sejak siang, ratusan massa yang tergabung dalam Forum Peduli Masyarakat Bawah (FPMB) berorasi di depan PN. Mereka menuntut manajemen PT Sipoa Group, Tee Teguh Kinarto dan kedua anaknya, yakni Tee Devina dan Tee Costarico, segera diproses hingga tuntas.

Tak hanya itu, massa meminta PN Surabaya berkoordinasi dengan pihak Kepolisian, Kejaksaan, dan Imigrasi, untuk melakukan pencekalan terhadap Tee Teguh Kinarto karena dikhawatirkan melarikan diri ke luar negeri. Selain Tee Teguh Kinarto, massa juga meminta kedua anaknya Tee Devina dan Tee Costarico turut dicekal.

“Kami meminta kepada Pengadilan Negeri Surabaya untuk berkirim surat kepada pihak Imigrasi, Polda Jatim dan Kejaksaan Tinggi untuk melakukan pencekalan terhadap ketiganya,” kata Cahyo selaku koordinator aksi.

BACA JUGA:

Curiga Ada Permainan, Korban Sipoa Minta KPK Awasi Proses Sidang

Korban Penipuan Apartemen Sipoa Tagih Janji Yusril Beri Bantuan Hukum

Ketiganya diduga sebagai aktor intelektual mega skandal penjualan partemen fiktif, di bawah PT Sipoa Group. “Mereka telah melakukan kejahatan besar dengan modus penjualan apartemen murah yang hingga saat ini belum dilakukan pembangunan,” paparnya.

Menurut dia, pembangunan Apartemen Royal Avatar Word di bawah bendera PT Bumi Samudera Jedine, yang akan dibangun di Surabaya, Sidoarjo dan Bali, hanya sebagai kedok untuk mendapat keuntungan. Saat ini, penegak hukum hanya memproses dua orang bawahannya saja. Sementara otak dari dalang skandal ini masih bebas berkeliaran. “Kami khawatir, mereka akan melarikan diri ke luar negeri,” ujar Cahyo.

Sebelumnya dalam kontrak penjualan Apartemen Royal Avatar Word, pihak manajemen berjanji akan melakukan serah terima kunci pada 2017. Namun, hingga saat ini belum ada pembangunan seperti yang dijanjikan.


Editor : Maria Christina