Desak Pelatih Senam Shalfa Minta Maaf, Khofifah: Kode Etik Harus Ditegakkan

Ihya' Ulumuddin, Hari Tambayong ยท Senin, 02 Desember 2019 - 22:03 WIB
Desak Pelatih Senam Shalfa Minta Maaf, Khofifah: Kode Etik Harus Ditegakkan

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa memeluk atlet senam artistik, Shalfa Avrila Siani yang gagal ikut SEA Games karena dituduh tak perawan. (Foto: iNews.id/Ihya' Ulumuddin)

SURABAYA, iNews.idGubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mendesak pelatih senam artistik untuk meminta maaf langsung ke Shalfa Avrila Siani karena telah menuduhnya tidak perawan.

Menurut Khofifah, dampak dari tudingan pelatih senam itu tak hanya membuat Shalfa dicoret dari keikutsertaannya di ajang bergengsi SEA Games 2019, namun juga membuat siswi kelas 3 SMA di Kediri itu syok dan nama baiknya tercemar.

“Kita berharap segala sesuatu berjalan kondusif dan produktif. Harkat dan martabat atlet dan pelatih harus dijaga. Maka kode etik atlet dan pelatih harus di evaluasi jika dirasakan kurang sesuai sehingga semua pihak memiliki standar untuk dijadikan pedoman," kata Khofifah seusai menerima kunjungan Shalfa beserta Ibu dan pengacaranya di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Senin (2/12/2019) sore.

Tak hanya meminta maaf, Khofifah juga berencana memanggil pelatih senam itu sampai dengan sanksi. Dalam hal ini kode etik pelatih perlu ditelaah dan evaluasi kembali. 

Khofifah mengaku tidak ingin hal ini terulang dan menjadi trauma bagi atlet junior. Karena itu, Khofifah meminta secara khusus agar kode etik  pelatih dapat ditegakkan.

BACA JUGA:

Dituduh Tak Perawan, Atlet Senam SEA Games 2019 asal Kediri Dipulangkan Paksa

Kronologi Pemulangan Shalfa Avrila, Atlet SEA Games karena Dituduh Tak Perawan Versi Keluarga

Sudah selayaknya dalam kode etik pelatih diatur bahwa pelatih selarasnya menghormati hak-hak dasar, martabat, dan harga diri semua orang. Pelatih harus menghormati hak-hak individu untuk privasi termasuk hal-hal yang sifatnya kerahasiaan. Begitu pula sebaliknya dengan atlet.

"Seharusnya kode etik baik atlet atau pelatih dapat dilaksanakan dengan baik khususnya untuk melindungi dan tidak menyinggung hal-hal yang menyangkut privasi keduanya," katanya. 

Orang nomor satu di Jatim ini menegaskan, olahraga adalah urusan prestasi. Maka, seyogianya yang menjadi ukuran adalah prestasi. Walaupun dalam proses pembinaan atlet ada pembinaan kedisiplinan dan karakter, namun indeks prestasi akan menjadi indikator utama ketika atlet masih ada di dalam pusat pelatihan. 

Untuk itu, lanjut Khofifah, kasus ini hendaknya menjadi koreksi bahwa dalam dunia keolahragaan kita  masih harus dilakukan pembenahan-pembenahan. Supaya apa yang dijadikan pertimbangan utama dalam menilai sang atlet adalah prestasinya.

Sementara itu, terkait keputusan Shalfa akan tetap lanjut atau tidak di Puslatda PON mendatang, Khofifah menyerahkan keputusannya pada sang atlet.

"Tadi sudah saya tanyakan kepada yang bersangkutan, kemudian Shalfa beserta ibunya membutuhkan waktu untuk berpikir dulu sebelum membuat keputusan. Apalagi tadi saya menanyakan pada Shalfa apa cita-citanya dan dia menyebutkan berkeinginan meraih cita-citanya itu," katanya.

Kuasa hukum Shalfa, Imam Muhlas menyesalkan tindakan pelatih terhadap kliennya Shalfa yang dipulangkan dengan alasan virginitas dan tidak displin. Kedua alasan tersebut, menurutnya, tidak disampaikan dengan jelas oleh Persani. Soal virginitas, Imam siap membuktikan jika tudingan itu tidak benar dan sebagai syarat dalam tes untuk atlet SEA Games.


Editor : Kastolani Marzuki