Dipenjara, Ahmad Dhani Berkeluh Kesah dan Tulis Surat Terbuka

Pramono Putra ยท Selasa, 12 Februari 2019 - 14:22 WIB
Dipenjara, Ahmad Dhani Berkeluh Kesah dan Tulis Surat Terbuka

Ahmad Dhani dikawal dari Rutan Medaeng menuju PN Surabaya, Jawa Timur (Jatim), Selasa (12/2/2019). (Foto: iNews/Pramono Putra)

SIDOARJO, iNews.id – Surat curhatan berisi keluh kesah Musisi Dhani Ahmad Prasetyo atau Ahmad Dhani yang menjadi terdakwa kasus dugaan pencemaran nama baik beredar di kalangan awak media. Isi pesan yang menyebar melalui  Whatsapp (WA) berisikan kekecewaan Ahmad Dhani atas putusan pengadilan dan salah persepsi soal penahanannya.

Surat yang diduga ditulis Ahmad Dhani itu dibuat saat berada di Rumah Tahanan (Rutan) Medaeng. Meski tidak ada tanda tangannya, namun di bagian bawah surat tertulis nama Ahmad Dhani-Rutan Medaeng.

Pesan curhatan itu beredar saat sidang di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Selasa (12/2/2019). Sebagian besar isinya berisi kekecewaan dan mempertanyakan status penahanannya selama 30 hari di Rutan Medaeng.


Dalam surat tersebut, Dhani menjelaskan dia terpenjara karena penetapan Pengadilan Tinggi, bukan menjalani vonis putusan hakim 1,5 tahun.

BACA JUGA: Sidang Ahmad Dhani Ricuh, Pengacara dan Pendukung Marah pada Jaksa

Beredarnya surat curhat yang diduga ungkapan Ahmad Dhani di dalam Rutan Medaeng belum terkonfirmasi. Dhani tak menjawab saat ditemui ketika keluar rutan menuju PN Surabaya.

Namun, surat itu pertama kali beredar dari orang dekatnya dan memang berasal dari Ahmad Dhani, serta ditujukan bagi para wartawan.

Diketahui, dalam sidang di PN Surabaya, kuasa hukum musisi Ahmad Dhani, Aldwin Rahardian menilai Jaksa Penuntut Umum (JPU) keliru atas dakwaan terhadap kliennya. Dia menganggap dakwaan cacat hukum karena tidak memenuhi unsur sebagaimana diatur dalam KUHAP.

Keberatan ini disampaikan Aldwin dalam eksepsi dalam persidangan kedua. “Dakwaan saudara jaksa itu keliru karena perkara pencemaran nama baik, harus dilaporkan oleh korban. Yang melaporkan juga harus orang, bukan organisasi,” kata Aldwin Rahardian. 


Editor : Donald Karouw