Divonis Nihil, Dukun Pengganda Uang Kanjeng Dimas Bebas dari Penjara

Ihya' Ulumuddin ยท Rabu, 05 Desember 2018 - 14:57 WIB
Divonis Nihil, Dukun Pengganda Uang Kanjeng Dimas Bebas dari Penjara

Dukun pengganda uang, Kanjeng Dimas Taat Pribadi terlihat tersenyum saat hakim memutus vonis nihil terkait kasus penipuan yang menjeratnya di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Rabu (5/12/2018). (Foto: iNews.id/Ihya' Ulumuddin)

SURABAYA, iNews.id - Terdakwa kasus dugaan penipuan Kanjeng Dimas Taat Pribadi bisa bernapas lega. Sebab, meski diputus bersalah, Kanjeng Dimas tidak harus menjalani hukuman sebagaimana kasus penipuan yang didakwakan. 

Ya, pada sidang putusan Rabu (5/12/2018), majlis hakim Pengadilan Negeri (PN) Surabaya menjatuhkan vonis nihil pada dukun yang terkenal dengan keahlian menggandakan uang itu, meskipun dia terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan penipuan terhadap korban bernama Muhammad Ali sebesar Rp10 miliar.

Ketua Majelis Hakim Anne Rusiana menjelaskan, sebelum kasus penipuan ini, terdakwa sudah menjalani vonis penjara untuk kasus pembunuhan selama 18 tahun penjara dan kasus penipuan selama tiga tahun penjara. Sehingga, jika diakumulasi, total masa pidana penjara terdakwa selama 21 tahun.

"Undang-undang secara kumulatif tidak membolehkan hukuman melebihi dari 20 tahun. Maka, pidana pada terdakwa nihil," katanya, Rabu (5/12/2018).

Anne mengungkapkan, terdakwa Taat Pribadi Alias Dimas Kanjeng Taat Pribadi Bin Mustain sekitar bulan Februari 2014 di Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi di Probolinggo yang beralamat di Dusun Sumber Cangkelek, Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, terbukti melakukan tindak pidana penipuan terhadap korbannya, Muhammad Ali.

"Korban membayar mahar sebesar Rp60 juta dengan tujuan akan dibangun pondok pesantren, rumah sakit, serta penampungan anak yatim piatu," kata Anne

Permintaan Muhammad Ali disetujui dengan memberi jaminan dua koper yang berisi uang masing-masing berisi mata uang euro dan real senilai Rp60 miliar. Namun koper itu tidak boleh dibuka dulu sampai ada perintah dari Taat Pribadi. Dana Rp10 miliar tersebut diserahkan ke Taat Pribadi secara bertahap sekitar empat kali. 

Rinciannya, pertama Rp3 miliar, kedua Rp2 miliar, ketiga Rp3 miliar, dan keempat Rp2 miliar di bulan Februari 2014. Sayangnya, uangnya pun ditilap oleh Taat. "Mengadili, terdakwa bersalah sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 378 KUHP Juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP," ujar Anne. 

Mendengar vonis ini, Taat Pribadi terlihat tersenyum. Usai sidang dia mengaku langsung menerima keputusan tersebut.  Jawaban berbeda disampaikan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Rakhmat Hari Basuki. Dia menyatakan akan mengajukan banding terkait dengan vonis tersebut. 

Sebelumnya, JPU menuntut Taat Pribadi pidana selama empat tahun penjara. "Saya akan laporkan dulu putusan ini pada pimpinan. Tapi saya akan ajukan banding," ujar Hari.


Editor : Himas Puspito Putra