Gedung Sekolah Ambruk, Siswa SDN Mojoroto Sudah 2 Tahun Belajar di Gudang Sempit

Ihya' Ulumuddin, Sholahudin ยท Kamis, 25 Juli 2019 - 15:46 WIB
Gedung Sekolah Ambruk, Siswa SDN Mojoroto Sudah 2 Tahun Belajar di Gudang Sempit

Para siswa SDN Mojoroto, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, Jatim, belajar di gudang karena gedung sekolah mereka yang ambruk belum diperbaiki. (Foto: iNews/Sholahudin)

MOJOKERTO, iNews.id – Puluhan siswa SD Negeri Mojoroto, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur (Jatim), sudah dua tahun menempati gudang dan bekas rumah dinas kepala sekolah untuk proses belajar mengajar. Setiap hari, mereka berdesakan duduk bertiga dalam dalam satu bangku karena ruangan cukup sempit.

Untuk siswa-siswa kelas V misalnya, menempati ruang tamu. Sedangkan siswa kelas VI menempati kamar rumah. Sementara kelas II, III dan IV belajar bersamaan dalam satu ruangan dengan hanya menggunakan sekat kayu.

Mereka terpaksa merasakan kegiatan belajar dalam kondisi memprihatinkan karena gedung sekolah SD ini ambruk menyusul bangunannya yang sudah lapuk, dua tahun lalu. Namun, hingga saat ini gedung sekolah belum juga dibangun. Pihak sekolah mau tidak mau menggunakan tempat seadanya.

“Kami tidak punya gedung lagi. Gedung yang ambruk belum dibangun. Sementara proses belajar mengajar harus tetap jalan. Maka para siswa terpaksa menempati tempat seadanya,” kata Wakil Kepala Sekolah SDN Mojoroto Jetis, Setyo Herisusanto, Kamis (25/7/2019).


BACA JUGA: Sekolah Rusak, Siswa Gunakan Tirai untuk Berbagi Kelas


Setyo mengakui, tempat yang kini dijadikan ruang kelas jauh dari kelayakan. Selain sempit, ruang kelas juga bising sehingga mengganggu konsentrasi siswa. Namun, siswa mesti menerima kondisi itu karena sekolah tidak punya solusi lagi.

“Sudah lama kami mengajukan proposal pembangunan, tetapi belum ada respons. Baru saja ini ada kabar, gedung akan dibangun bulan September ini,” katanya.

Sementara itu, salah seorang siswa mengaku tidak nyaman belajar di tempat darurat seperti itu. Apalagi ruangan tersebut juga lembab dan banyak nyamuk. “Inginnya punya kelas baru. Tidak di sini (gudang dan bekas rumah dinas kepala sekolah). Sempit dan banyak nyamuk,” katanya.


Editor : Maria Christina