Gempa 2 Kali di Tuban, BMKG: Deformasi Batuan Lempeng Indo-Australia Masih Aktif

Antara, Ilma De Sabrini ยท Kamis, 19 September 2019 - 18:16 WIB
Gempa 2 Kali di Tuban, BMKG: Deformasi Batuan Lempeng Indo-Australia Masih Aktif

Warga dan pengunjung sidang berhamburan keluar dari Gedung Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Bali saat gempa dua kali mengguncang wilayah itu. Gempa tersebut berpusat di laut Jawa, Tuban, Jatim. (Foto: iNews.id)

JAKARTA, iNews.id - Gempa bumi dengan magnitudo besar yang dua kali mengguncang Tuban, Jawa Timur hingga dirasakan warga di beberapa provinsi pada Kamis(19/9/2019) sore, terjadi akibat deformasi atau perubahan batuan pada Lempeng Indo-Australia.

Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono mengatakan, gempa tersebut menjadi bukti bahwa aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia di kedalaman 500 kilometer di bawah Laut Jawa masih aktif.

“Di bawah Laut Jawa tersebut Lempeng Indo-Australia menunjam dan menukik curam hingga kedalaman lebih dari 600 kilometer," ungkap Daryono dalam keterangan tertulisnya.

BACA JUGA: Gempa Bumi Tektonik 2 Kali Guncang Laut Jawa, Begini Penjelasan BMKG

Sebelumnya, gempa di wilayah laut Jawa pada pukul 14.06 WIB dan 14.31 WIB pada Kamis, dengan kekuatan masing-masing Magnitudo 6,1 dan 6,0 dengan jarak episenter 21 kilometer. Gempat itu sangat terasa di daerah Jawa Timur, Yogyakarta, sampai Bali dan NTB.

Gempa jenis dalam atau deep focus earthquake itu berlokasi di laut sekitar 88 km arah timur laut kota Rembang, Jawa Tengah di kedalaman 620 km. Gempa kedua terjadi 75 km timur laut kota Rembang dan terjadi di kedalaman 623 km.

Kedua gempa itu dirasakan getarannya sampai ke Madura, Malang, Denpasar, Mataram, Lombok Barat, Lombok Tengah, dan Sumbawa. Belum ada laporan dampak kerusakan akibat gempa tersebut dan tidak berpotensi tsunami.

Alasan mengapa getaran gempa itu terasa cukup jauh adalah karena hiposenter atau pusat gempa yang dalam sehingga spektrum guncangan dirasakan dalam wilayah yang luas. Gempa dengan kedalaman melebihi 300 km sendiri merupakan fenomena alam yang menarik karena jarang terjadi.

Proses terjadinya gempa hiposenter hingga kini masih misteri. “Ada teori yang menjelaskan kaitannya dengan perubahan sifat kimiawi batuan pada suhu dan tekanan tertentu," ungkap Daryono.

BACA JUGA: Gempa 2 Kali Guncang Tuban Juga Dirasakan Warga Yogyakarta

Aktivitas seismik ini, menurut Daryono, terjadi karena adanya pengaruh gaya slab pull yaitu gaya tarik lempeng ke bawah akibat tarikan gravitasi Bumi yang ditandai dengan mekanisme sumber gempa yang berupa sesar turun.


Editor : Kastolani Marzuki