Hanya Punya 2 Guru, SDN 4 Tegalwaru Jember Gabung Siswa Antarkelas

Bambang Sugiarto ยท Rabu, 16 Januari 2019 - 16:54 WIB
Hanya Punya 2 Guru, SDN 4 Tegalwaru Jember Gabung Siswa Antarkelas

Kondisi sekoilah SDN Tegalwaru 4 Jember. (Foto: iNews/Bambang S).

JEMBER, iNews.id - Sebuah sekolah dasar negeri di Kabupaten Jember, Jawa Timur (Jatim) hanya memiliki dua orang guru pengajar. Solusinya, siswa-siswi kelas 1,2 dan 3 digabung menjadi satu kelas, dan kelas 4, 5 dan 6 berbeda ruangan.

Kondisi ini terjadi di SDN Tegalwaru 4 Jember. Meski berbeda tingkat, para siswa belajar dalam satu kelas. Kondisi sekolah pun jauh dari kategori layak dengan atap tanpa plafon. Sekolah pun hanya memiliki tiga kelas dengan jumlah siswa 36 orang, mulai dari kelas 1-6.

Lalu, hanya ada dua orang guru yang mengajar. Yakni, kepala sekolah serta guru olahraga. Keduanya berbagi tugas dalam mengajar, di mana kelas 1,2 dan 3 digabung dalam satu ruangan. Begitu juga kelas 4 dan 5, sedangkan kelas 6 terpisah sendiri karena akan menempuh ujian kelulusan.

Kepala Sekolah SDN Tegalwaru 4 Jember, Tri Hastuti, berharap ada penambahan guru supaya proses belajar mengajar di sekolahnya bisa lebih optimal. Dengan begitu, para siswa di setiap tingkatan kelas dapat menerima porsi pendidikan secara fokus.

"Harapan saya ini tidak muluk-muluk, kalau misalkan sekolah kita ini tidak di-marjer, setidaknya ditambah guru lah," kata Tri di SDN Tegalwaru 4 Jember, di Jalan Sidomukti Kabupaten Jember, Jatim, Rabu (16/1/2019).

Menurut dia, dengan keterbatasan jumlah guru ini, pendidikan para murid tidak akan maksimal. Sebab, jika ada salah satu guru sakit, mereka yang berada di satu ruangan dari berbagai kelas terancam tak menerima materi pembelajaran. Apalagi, kalau kepala sekolahnya harus ada keperluan lain.

"Otomatis ditinggal. Daripada ada risiko, anak-anak dipulangkan, belajar di rumah," ujar dia.

Sementara itu, Anggota Komisi D DPRD Kabupaten Jember, Mochamad Hafidi mengatakan, sudah berulang kali dia meminta dinas pendidikan me-marjer sekolah yang siswanya sedikit dengan sekolah lain. Dengan begitu, proses belajar mengajar akan lebih optimal.

"Harus ada kebijakan yang diambil kalau melihat kondisi ini," kata Hafidi.

 


Editor : Andi Mohammad Ikhbal