Hari Ketujuh Banjir, Warga Jombang Mulai Terserang Berbagai Penyakit

Mukhtar Bagus ยท Selasa, 07 Mei 2019 - 12:41 WIB
Hari Ketujuh Banjir, Warga Jombang Mulai Terserang Berbagai Penyakit

Petugas Puskesmas Blimbing, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, memeriksa kondisi warga korban banjir, Selasa (7/5/2019). (Foto: iNews/Mukhtar Bagus)

JOMBANG, iNews.id – Banjir yang melanda sejumlah desa di Kabupaten Jombang, Jawa Timur (Jatim), sudah mulai surut, Selasa pagi (7/5/2019). Namun setelah tujuh hari terendam banjir, warga mulai menderita berbagai macam penyakit.

Warga banyak yang mengeluh pusing, diare, dan terserang gatal-gatal akibat kutu air. Untuk menangani warga yang mulai terserang penyakit, sejumlah petugas dari puskesmas dikerahkan untuk mendatangi rumah-rumah warga di Desa Jombok, Kecamatan Kesamben.

Petugas kemudian memeriksa kondisi para korban banjir satu per satu di rumah masing-masing. Selanjutnya, petugas membagikan obat secara gratis kepada warga, seperti salep dan obat lainnya untuk meredakan sakit.

“Sampai saat ini kebanyakan warga korban banjir menderita penyakit gatal-gatal dan mulai ada yaang diare,” kata Kepala Puskesmas Blimbing, Dokter Rahma yang turun langsung ke rumah warga.

BACA JUGA:

Ratusan Rumah di Jombang Sudah 6 Hari Terendam Banjir

Warga Desa Tempuran Kabupaten Mojokerto Jalani Puasa Pertama di Lokasi Banjir

Rahma mengatakan, pihak puskesmas juga sejak awal ikut menyediakan air bersih bagi warga korban banjir untuk mengantisipasi wabah diare. Selain itu, Puskesmas Blimbing berkoordinasi dengan instansi pemerintah daerah untuk kebutuhan para korban banjir. “Kami dari pihak puskesmas juga mengontrok gizi makanan warga,” kata Rahma.

Banjir sudah merendam ratusan rumah warga di Desa Jombok, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang, sejak tujuh hari lalu. Di hari ketujuh ini, ketingian banjir mulai surut menjadi antara 40 hingga 50 sentimeter (cm).

Banjir terjadi akibat luapan dari sungai di Desa Jombok yang sudah lama mengalami pendangkalan dan penyempitan. Warga berharap pemerintah segera melakukan normalisasi sungai di desa mereka agar setiap musim hujan tidak selalu meluap seperti sekarang.


Editor : Maria Christina